stress, stres, about stress, mengenali stres, mengatasi stres, mengelola stres, stress relief, stress reduction, stress management
Kenali, Kelola dan Atasi Stres Dengan Baik
March 21st, 2008 at 2:09 am
Posted By:
Posted in: Indonesian Articles

Kemiskinan Menimbulkan StresJasih bunuh diri dengan cara menyiramkan minyak tanah ke tempat tidur dan ke tubuh dirinya dan kedua anaknya. Mahfud menyatakan memang selama ini Jasih sering mengeluh mengenai kesehatan anak keduanya. Ia pun mengeluhkan besarnya biaya yang harus ditanggung, di tengah kemiskinan yang selalu menderanya.

Suwarni (34), ibu rumah tangga yang tengah hamil empat bulan, tewas setelah menelan racun serangga di kamar mandi rumah kontrakannya di Kampung Pinggir Rawa RT 03 RW 03, Bekasi Jaya, Bekasi Timur. Kepada suaminya pelaku sempat mengeluhkan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan.

Tidak diragukan lagi, kemiskinan yang merajalela telah menjadi momok bagi kota Jakarta. Kemiskinan yang mendatangkan berbagai macam masalah harus segera diperangi. Sebelum Indonesia terperosok ke dalam krisis ekonomi, jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan “hanya” 22,5 juta. Oleh karena pemerintahan Orde Baru gagal menanggulangi krisis ekonomi, maka jumlah orang miskin membengkak menjadi 78,9 juta. Ini adalah angka kemiskinan versi BPS tahun 2006.

Kota besar seperti Jakarta juga tidak terhindar dari kemiskinan. Hal ini dikarenakan oleh beberapa sebab. Terbatasnya lapangan pekerjaan yang tidak sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk menyebabkan bertambahnya angka pengangguran di Jakarta yang kemudian berujung pada kemiskinan. Tingkat pengeluaran yang semakin tinggi dikarenakan naiknya harga kebutuhan pokok juga menyebabkan kemiskinan. Selain itu, pemerintahan yang korupsi tak pelak membuat negara terancam kemiskinan.

Akibat dari kemiskinan itu sendiri sangat kompleks. Salah satunya ialah kelaparan. Menurut PBB, sekitar 25 ribu orang meninggal setiap hari karena kelaparan. Angka yang cukup mengejutkan untuk mengingatkan kita akan bahaya kelaparan yang mengancam masyarakat miskin. Kemiskinan juga menyebabkan berbagai macam masalah kriminal, seperti pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan. Tidak hanya itu, kemiskinan juga menimbulkan masalah kesehatan. Boleh dikatakan, kemiskinan dapat memaksa seseorang untuk melakukan apa saja.

Kemiskinan ataupun akibat dari kemiskinan itu sendiri tentu saja menimbulkan stres. Stres ialah reaksi tubuh terhadap stressor yang dapat membuat sistem tubuh tidak berfungsi dengan baik. Stressor ialah kondisi atau hal yang dapat menyebabkan munculnya respon stres. Stressor dalam hal ini ialah kemiskinan atau akibat dari kemiskinan tersebut, misalnya asupan gizi yang buruk, tingkat pendidikan yang rendah, tempat tinggal yang tidak memadai, dan lain sebagainya.

Bayangkan saja bagaimana stresnya seseorang yang tinggal di permukiman kumuh seperti di bantaran kali, kolong jembatan, kolong jalan tol, hingga tepi rel kereta. Tempat tinggal tersebut biasanya hanya berupa tripleks bekas atau kardus. Dan tempat tinggal tersebut juga tidak luas, karena biasanya dalam satu kolong jembatan tinggal tidak hanya satu keluarga, melainkan puluhan keluarga, sehingga tiap keluarga harus berbagi tempat. Tidaklah sulit bagi warga Jakarta untuk menemukan ‘gubuk-gubuk’ ini, karena terdapat puluhan daerah yang dijadikan tempat bermukim ilegal bagi para masyarakat miskin di Jakarta, diantaranya Rawa Bebek, Tanah Merah, Teluk Gong, kolong jalan tol layang Pluit, dan masih banyak lagi, diperkirakan mungkin terdapat sekitar ratusan ribu jiwa yang tinggal di permukiman kumuh ilegal ini.

Reaksi stresnya bisa jadi :

  1. Gangguan pernafasan, yang disebabkan oleh sempitnya tempat tinggal sehingga mengharuskan mereka untuk tinggal berdesakan.
  2. Gelisah, takut, panik, yang menyebabkan kesulitan tidur karena adanya penggusuran atas tempat permukiman oleh pihak berwajib.
  3. Perasaan tidak berdaya, bersalah dan malu, karena menempati permukiman kumuh yang ilegal.

Selain stressor tempat tinggal, masyarakat miskin juga memiliki stressor lainnya. Kemiskinan cenderung mengakibatkan seseorang memiliki kesehatan yang kurang baik, karena keterbatasan sarana dan prasarana serta terbatasnya daya beli air bersih, makanan bergizi, vaksinasi, juga karena kurangnya pengetahuan atas kesehatan itu sendiri. Bicara soal kesehatan, ada satu pengalaman yang rasanya cukup mengejutkan. Seorang anak di supermarket meminta ibunya untuk membelikan sikat gigi dan pasta gigi untuknya. Jawaban ibunya sungguh mengejutkan, ibunya berkata, “ sikat gigi, kayak orang kaya saja..!”. Ketika itu penulis hanya bisa terheran, bagaimana sesuatu yang sangat biasa, sangat umum dan sudah seharusnya bisa dilihat sebagai sesuatu yang mewah oleh orang-orang tertentu. Bayangkan saja, sikat gigi dinilai mahal dan merupakan barang yang hanya dapat dibeli orang kaya, pengalaman itu terjadi ketika penulis masih seorang anak kecil. Itu berarti, krisis ekonomi 1998 belum terjadi. Bagaimana pula kondisi setelah krisis ekonomi tersebut?. Tidak usah dibahas lagi, membahas tentang ini sungguh membuat stres.

Pola makan atau kebiasaan makan yang buruk, mengkonsumsi makanan yang kurang bervitamin, makanan yang banyak mengandung gula dan lemak, serta terbiasa mengkonsumsi kafein yang terdapat dalam kopi dan teh, dapat memicu stres. Reaksi stresnya ialah sakit perut, gelisah, lelah dan sebagainya. Hal itu menjadi stressor yang mengganggu.

Masyarakat miskin juga mengalami stres karena kekhawatiran akan masa depan dan hidup mereka. Mereka cenderung merasa tidak berdaya, merasa tidak aman, merasa tidak memiliki harapan, juga merasa malu dan kecewa. Mungkin sekali masyarakat miskin ini mengalami depresi berkepanjangan, dan tidak jarang depresi kemudian membuat seseorang tega menghabisi nyawanya sendiri. Lihat saja akibat krisis ekonomi atau lebih dikenal dengan “Great Depression” di Amerika akhir tahun 20-an. Akibatnya rekor bunuh diri dengan angka tertinggi di Amerika tercapai.

Bunuh diri dilihat sebagai upaya untuk melarikan diri dari kenyataan. Bunuh diri dilakukan sebagai satu-satunya jalan ketika seseorang sudah tidak mampu lagi mengatasi stres yang dialaminya. Seharusnya selalu ada cara yang lebih baik daripada bunuh diri. Cara menghadapi stres disebut juga coping strategies.

Coping strategies terdiri dari 2 jenis, yaitu; problem focused dan emotion focused. Dimana yang pertama yaitu coping stres dengan menghadapi akar permasalahan yang sebenarnya sementara yang terakhir ialah coping stres lebih dengan melibatkan area emosi seperti mencari dukungan sosial, dan sebagainya. Dari berbagai strategi coping yang ada, ada yang dianggap merupakan coping yang kurang baik, yaitu escape avoidance, dimana seseorang menghindari kenyataan yang ada, seperti pura-pura melupakan masalah yang dihadapi, tidak mau mengakui bahwa ada masalah tersebut. Bunuh diri termasuk strategi coping escape avoidance, banyak orang berpikir bahwa mereka akan segera terbebas dari masalah apapun bila mereka lari dari dunia ini.

Dua kasus yang dipakai sebagai pembuka di atas, menggambarkan bagaimana kemiskinan mengakibatkan seseorang melakukan bunuh diri. Kasus tersebut sengaja dipilih untuk menekankan kembali bahwa kemiskinan merupakan masalah yang serius. Kemiskinan bukanlah hal yang dapat dipandang remeh, hal yang tidak akan kita pedulikan. Kemiskinan merupakan setan yang sungguh dahsyat dan mengancam. Lalu bagaimana cara atau strategi yang dapat dilakukan dalam menghadapi stres yang disebabkan oleh setan ini?.

Pertama ialah gratitude, bersyukurlah, tumbuhkan rasa bersyukur yang dalam kepada Tuhan. Karena kita tahu bahwa kita tidak sendiri, masih begitu banyak orang-orang yang kondisinya bahkan lebih buruk. Yang terpenting, nikmatilah hidup yang telah diberikan oleh-Nya. Semua orang dapat menikmati hidup, tidak terkecuali orang miskin. Orang kaya sekalipun apabila tidak menikmati hidupnya dan terus-menerus mengeluh tanpa merasa bersyukur juga tidak akan dapat bahagia dalam hidupnya. Kebahagiaan dalam hidup tidak ditentukan oleh material semata, hal ini harus diingat. Ketika seseorang menerima dirinya apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, serta menyadari bahwa hidup itu indah, akan cenderung kurang mengalami stres. Harus ditumbuhkan rasa menerima dan mendekatkan diri pada Tuhan, agar tidak terus-terusan merasa tidak puas terhadap hidup yang kemudian menimbulkan stres.

Kedua cari penghiburan yang dapat membuat hati senang, seperti mendengar musik.

Ketiga banyak bergaul, ceritakan keluh kesah kepada teman atau keluarga, hal ini mendatangkan energi positif karena mengeluarkan segala hal yang bersifat negatif di dalam.

Keempat, lakukan olahraga untuk menjaga tubuh dalam kondisi yang sehat. Semua orang dapat melakukan olahraga, tidak terkecuali orang miskin. Senam pagi juga dapat membantu dan memberikan mood yang baik sepanjang hari.

Dan terakhir, bersemangatlah menjalani hidup, biar bagaimana sulitnya hidup, akan ada hari yang cerah jika kita menjalaninya dengan kesungguhan hati. Ingat, roda kehidupan terus berputar. Yang buruk tidak selalu buruk, yang baik tidak selalu baik. Oleh karena itu optimislah bahwa suatu saat hal yang baik akan datang dan sementara itu siapkanlah diri anda untuk hari itu.

By Cintia





No Comments

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment