Posted in: Indonesian Articles
Pertanyaan ini mungkin terkesan sebagai pertanyaan yang begitu mudah bagi Anda. “Jelas saya mengenal diri saya!” jawaban ini mungkin merupakan jawaban yang secara spontan keluar dari benak Anda berkaitan dengan pertanyaan yang diajukan tadi. “Jelaskan siapa Anda?” Merupakan pertanyaan lanjutan dari pertanyaan yang saya ajukan sebelumnya. Pada tahap pertanyaan ini biasanya orang akan mulai menjawab dengan menyebutkan nama, tanggal kelahiran, alamat, instansi tempat Anda mungkin bernaung saat ini. Tidak ada yang salah dari setiap jawaban tersebut, setiap jawaban berupaya menggambarkan dengan jelas siapa diri Anda sebenarnya. Tanpa disadari, semua jawaban tersebut sebenarnya hanya mengungkapkan siapa anda secara identitas. Jawaban – jawaban tersebut mungkin dapat saya temukan sendiri dengan mudah hanya dengan mengambil informasi dari kartu identitas atau kartu tanda pengenal Anda.
Coba renungkan lagi dengan tenang dan lebih seksama, untuk menjawab pertanyaan – pertanyaan yang saya ajukan tadi. Ambillah sedikit waktu Anda saat ini untuk merenungkan jawaban dari pertanyaan saya tadi. Benarkah Anda telah dapat menjabarkan siapa diri Anda sepenuhnya?
Di era yang serba cepat seperti saat ini, kita seakan tidak punya lagii waktu untuk diri kita sendiri. Kita abdikan hampir seluruh waktu kita untuk memenuhi segala tuntutan yang ada. Tuntutan pekerjaan, ekonomi, orang tua, teman, pasangan, anak, dan bahkan tuntutan dari diri kita sendiri. Demi memenuhi tuntutan hidup ini, semakin lama kita semakin tenggelam bergumull dengan segala bentuk tekanan yang dihasilkan oleh tuntutan – tuntutan ini. Tekanan – tekanan yang ada terkadang membuat kita merasa tidak dapat lagi berpikir dengan jernih, kelelahan yang luar biasa, secara perlahan – lahan membuat kita menjadi sakit dan justru tidak dapat lagi memenuhi tuntutan – tuntutan itu sendiri, dan yang terutama membuat kita tidak lagi punya waktu untuk merenung untuk memikirkan pertanyaan dasar “Who am I ?”.
Dalam kesibukan Anda sehari – hari menjalani tekanan yang Anda miliki, pernahkah Anda merasa tubuh Anda tidak bekerja semaksimal biasanya, kesulitan dalam berkonsentrasi, Anda menjadi orang yang mudah marah, menjadi orang yang sangat sensitive, dan perubahan perilaku maupun perasaan yang tidak dapat Anda jelaskan sebabnya? Apabila ya, hati – hati mungkin Anda mengalami stres!
Dalam bukunya yang berjudul Managing Pressure for Peak Performance, Stephen Williams mengatakan bahwa “Biasanya kita tidak menyadari bahwa kita mengalami stres, sampai akhirnya terjadi sesuatu yang menyadarkan kita tentang betapa parahnya keadaan kita sebenarnya.” Inikah yang terjadi pada Anda? Sudah menjadi rahasia umum bahwa stres yang berlebihan dapat menyebabkan “komplikasi” negatif dalam diri seseorang. Gangguan kesehatan, mood, dan bahkan gangguan relasi dengan orang lain pun dapat terganggu bila seseorang mengalami stres, dalam beberapa kasus ekstrem stres bahkan dapat memicu keinginan untuk bunuh diri demi melarikan diri dari kondisi tertekan yang dialami.
Begitu mencekamnya kata stres membuat kita mungkin semakin stres saat memikirkannya. Ada kabar baik bagi Anda, kita dapat mengatur stres kita sendiri. Mengolahnya menjadi hal positif yang justru dapat membuat kondisi diri kita semakin optimal. Dalam tulisan ini saya akan membantu Anda untuk memahami stres dengan lebih baik melalui pengenalan yang lebih mendalam mengenai diri Anda, hal ini kita lakukan agar dapat mengurangi efek negatiif stres bagi diri Anda.
Stres itu…..
Stephen Williams mengatakan bahwa definisi stres bagi tiap orang berbeda – beda (Williams, 1994). Bagi seorang pialang saham stres ialah kerugian yang terus menerus, bagi seorang pekerja stres ialah deadline yang makin mepet, bagi seorang pelajar stres ialah saat ia tidak naik kelas atau menjelang ujian, dan bagi beberapa orang lain stres ialah saat kita kehilangan pacar.
Secara teoritis stres diartikan sebagai sebuah atau beberapa rangsangan pada tekanan yang dialami yang tidak dapat diakomodasikan atau ditahan yang pada akhirnya dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan pada kesehatan maupun tingkah laku orang tersebut (Pestonjee,1992). Agarwala pada tahun 1979 menyatakan bahwa secara psikologis, stres merupakan hasil dari interaksi antara seorang manusia dengan lingkungan di sekitarnya. Secara pribadi saya mengartikan stres sebagai perubahan secara fisik dan emosi tanpa alasan yang disebabkan oleh tumpukan pekerjaan maupun hubungan yang membururk dengan orang – orang terdekat. Lalu, apa arti stres menurut Anda?
Beragamnya arti stres bagi masing – masing orang tidak lain disebabkan oleh sumber stres atau pemicu stres yang dialami oleh tiap orang berbeda – beda pula. Perbedaan pemicu stres inilah yang jarang diketahui oleh banyak orang. Biasanya kita menggabungkan semua bentuk tekanan yang kita alami dan menyebutnya dengan “sangat stres”. Dengan melakukan kebiasaan ini, tanpa disadari kita membuat stres itu sendiri sebagai sebuah momok dan masalah besar yang sulit terpecahkan, sehingga membuat hidup kita terasa penuh dengan beban. Dari sinilah efek negatif dari stres mulai menggerogoti diri kita perlahan – lahan, dan membuat kita semakin terpuruk dan tidak berfungis secara optimal.
Mengapa kita perlu mengolah stres, dan bukan menghindarinya? Karena kita memerlukan stres dalam hidup kita! Tanpa stres, hidup kita akan menuju pada boredom atau kebosanan yang amat sangat yang justru lebih menimbulkan kecenderungan keinginan bunuh diri bagi mereka yang mengalaminya. Dengan adanya stres kita dapat secara tidak langsung melatih diri untuk semakin berkembang dan tahan uji terhadap setiap tekanan yang datang demi mencapai kondisi optimal. Kondisi optimal merujuk pada pribadi yang penuh kemampuan, semangat, dan vitalitas yang mampu menghadapi tantangan, serta selalu mecari peluang untuk berkembang (Williams,1994).
Salah satu cara untuk mengolah stres menjadi hal yang positif ialah dengan mengurai dan mengetahui apa yang menjadi sumber stres Anda satu demi satu. Hentikan kebiasaan menyatukan segala bentuk tekanan dan menyebutnya dengan sangat stres dan mulailah secara perlahan merenungkan apa – apa saja yang Anda alami selama ini yang dapat menimbulkan stres bagi diri Anda.
Setelah mengetahui apa- apa saja penyebab stres Anda selama, sekarang coba kelompokkan penyebab – penyebab tersebut. Ada beberapa jenis atau kategori penyebab stres atau pemicu stres yang coba dikelompokan oleh Girdano (2005) dalam bukunya Controlling Stress & Tension A Holistic Approach. Menurut Girdano, pemicu stres dibagi dalam 4 kategori.
Berikut ialah kategori – kategori penyebab atau pemicu stres menurut Girdano tahun 2005 :
- Job stress, ialah stres yang disebabkan oleh faktor pekerjaan. Date line yang menipis, tumpukan pekerjaan yang menggunung, tugas yang bertubi – tubi, gaji atau nilai yang rendah atau tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaan/ tugas, guru/dosen/bos yang semena – mena, adalah beberapa bentuk pemicu dalam pekerjaan yang dapat menyebabkan stres.
- Psychosocial stress, ialah stres yang disebabkan oleh tekanan dari segi hubungan kita dengan kondisi sosial disekitar kita. Hal – hal yang dapat menimbulkan stres secara psikososial ialah perubahan dalam hidup, memasuki jenjang pendidikan baru (SD ke SMP, SMP ke SMA, SMA ke kuliah), pernikahan, pindah rumah, punya pacar, putus dari pacar, perceraian, kantor baru, frustrasi karena kemacetan yang ditemui di setiap sudut Jakarta (yang juga dapat menyebabkan overload), diskriminasi karena perbedaan etnis atau karena kondisi ekonomi, atau birokrasi yang berbelit – belit seperti saat ditilang dan kita memutuskan untuk tidak “berdamai”, kesendirian dan kebosanan juga dapat menyebabkan stres.
- Bioecological stress, terdiri atas dua sumber stres yaitu Ecological stress, merupakan stres yang disebabkan oleh kondisi lingkungan. Belakangan ini mungkin banyak dari kita yang mengalami stres karena cuaca yang berubah – ubah tidak menentu, asap knalpot angkutan umum yang menderu tanpa ragu di jalan – jalan, panas terik akibat global warming, atau bahkan polusi suara dari peraduan antara bunyi deru motor atau bajaj dengan peluit petugas polisi jalan raya, tanpa kita sadari hal – hal ini juga dapat menyebabkan stres. Berikutnya ialah biological stress, ialah stres yang disebabkan oleh kondisi fisik tubuh kita. Bagi para wanita pre menstruation syndrome atau yang dikenal dengan PMS mungkin merupakan contoh yang paling baik dalam menggambarkan biological stress. Kondisi mood dan hormon yang naik turun pada periode ini terkadang membawa stres tersendiri. Contoh lainnya seperti proses penuaan yang secara alami kita alami seperti munculnya keriput, alergi, jerawat, asma, atau penyakit bawaan lainnya yang dapat mempengaruhi performa terbaik kita terkadang juga dapat menyebabkan stres bagi kita.
- Personality Stress, stres ini disebabkan oleh permasalahan yang dialami dalam diri sendiri. Stres ini dapat muncul disebabkan oleh bagaimana kita memandang segala sesuatu yang ada di sekitar kita (persepsi kita tentang stres bebankah atau tantangan?), komponen – komponen dari persepsi itu sendiri ialah harga diri, penghormatan terhadap diri sendiri, kecintaan akan diri kita sendiri, serta kepercayaan pada diri kita sendiri. Semakin positif kita memandang diri dan segala tekanan yang ada disekitar kita semakin kecil kemungkinan kita mengalami stres jenis ini.
Dengan mengurai dan mengelompokkan pemicu – pemicu stres Anda, diharapkan Anda akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai stres yang Anda alami. Pada akhirnya, dengan mengetahui jenis dan penyebab stres yang Anda alami, diharapkan Anda akan dapat lebih mudah mengolah dan mengatur stres Anda ke arah yang lebih baik.
Bagaimana Reaksi Anda terhadap Stres?
Sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, bahwa terkadang kita tidak menyadari saat kita mengalami stres. Kita baru menyadarinya saat keadaan sudah memburuk dan sulit untuk diatasi. Setelah mengetahui dengan jelas penyebab stres Anda, hal yang berikutnya sebaiknya Anda lakukan ialah membuat daftar yang memuat apa saja yang Anda rasakan saat Anda mengalami stres. Dengan mengenal dan memahami apa yang terjadi pada tubuh dan diri Anda saat mengalami stres, Anda akan semakin cepat mendeteksi terjadinya stres dalam hidup Anda, sehingga Anda dapat mengatasinya dan mengolahnya dengan lebih cepat menjadi stres yang positif yang tidak menggerogoti diri Anda secara perlahan - lahan.
Reaksi tiap – tiap orang terhadap stres sama seperti definisi stres itu sendiri yaitu berbeda – beda bagi tiap orang. Reaksi ini terbagi atas 4 yaitu reaksi emosi seperti cemas, mudah marah atau tersinggung, suasana hati yang labil, merasa gagal, dsb; reaksi fisik contohnya seperti cepat lelah, mual, otot tegang, sakit kepala, dsb; reaksi pikiran atau kognitif seperti sulit konsentrasi, sulit mengambil keputusan, menjadi pelupa,dsb; dan reaksi perilaku contohnya seperti nafsu makan berkurang, banyak merokok, dorongan seksual menurun (Williams,1994). Bagaimana dengan Anda, apa yang Anda biasanya alami pada keempat bentuk reaksi tersebut saat stres?
Untuk memudahkan Anda buatlah sebuah kotak besar, dan bagilah dalam 4 kotak – kotak kecil. Masing – masing kotak kecil itu mewakili 4 reaksi tubuh Anda terhadap stres. Gunakanlah kotak – kotak tersebut untuk membedakan reaksi – reaksi Anda terhadap stres sehingga lebih jelas perbedaan dan pemetaan reaksi Anda terhadap stres.
Strategi Mengatasi Stres !
Setelah mengenal dan memahami penyebab dan reaksi Anda terhadap stres, yang berikutnya ialah mengatur strategi atau upaya – upaya untuk mengatasi dan mengolah stres Anda. Strategi dalam mengatasi stres ini dikenal dengan sebutan coping stress strategies. Coping ialah faktor stabilisator yang dapat membantu dalam mengatur kemampuan adaptasi kita saat mengalami stres ( Lazarus,1984).
Secara umum coping strategies terbagi atas 2 yaitu problem focused an emotion focused. Problem focused ialah strategi mengatasi stres dengan langsung menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Dalam strategi ini biasanya seseorang akan secara aktif berusaha untuk mengatasi atau bahakn mengurangi kejadian – kejadian yang dapat menyebabkan stres, seperti pindah kerja bila kondisi kerja yang sekarang tidak sesuai dengan keinginan. Biasanya problem focused digunakan dalam masalah yang dapat dikontrol seperti masalah yang berhubungan dengan pekerjaan. Emotion focused di lain sisi lebih mengarahkan pada perasaan atau apa yang dirasakan saat seseorang mengalami suatu kejadian yang memicu stres. Emotion focused cenderung berusaha untuk mengatasi perasaan – perasaan seperti sedih, kecewa, dsb, yang dialami saat seseorang mengalami stres, contohnya seperti curhat ke teman atau saudara saat mengalami tekanan. Biasanya strategi ini digunakan saat menyangkut permasalahan yang tidak dapat dikendalikan seperti masalah kesehatan. Kedua strategi ini tidak selamanya berdiri sendiri – sendiri, kombinasi dari keduanya pun dapat digunakan demi menghasilkan strategi yang tepat untuk mengatasi stres Anda, dan mengarahkannya menjadi hal yang positif.
Bagaimana dengan Anda, upaya dan cara seperti apa yang sering Anda lakukan untuk mengatasi stres?
Bagaimana pun cara Anda dalam mengatasi stres Anda, satu hal yang sebaiknya Anda ingat yaitu jangan pernah menghindar dari stres atau tekanan yang Anda alami. Lakukanlah active coping yaitu melakukan dan merancang respon – respon demi merubah cara berpikir kita tentang penyebab stres yang kita alami menjadi hal yang positif. Dengan demikian Anda dapat optimal dan berkembang melalui stres.
Langkah – langkah stres…
Sesuai dengan pembahasan – pembahasan di atas, jadi ada 4 tahap yang harus dilakukan untuk mengatur stres Anda menjadi hal yang positif:
1. Kenali reaksi Anda terhadap stres
2. Kenali sumber stres Anda
3. Tentukan cara – cara atau strategi untuk mengatasi stres
4. Lakukan dan biasakanlah menjalani cara – cara tersebut dalam keseharian Anda, agar Anda semakin terbiasa dan mahir dalam mengatasi stres Anda. (Girdano,1993).
Semoga dengan melakukan keempat tahapan di atas dalam keseharian Anda, Anda dapat mengatasi stres Anda dengan lebih baik dan menghasilkan pribadi yang optimal dan berkembang.
By Teresia M Hilda
Daftar Pustaka :
Girdano, D, Jr Everly,G S & Dusek, D E. 1993. Controlling Stress & Tension A Holistic Approach. New Jersey: Prentice Hall.
Pestonjee, D M. 1992. Stress and Coping The Indian Experience. New Delhi : Sage Publication.
Tanner, O. 1976. Human Behavior: Stress. New York : Time – Life Books.
Williams, S. 1994. Managing Pressure for Peak Performance. London : Kogan Page Limited
4 Langkah untuk Stres yang lebih baik
1. Reaksi saya saat mengalami stress, biasanya…
Reaksi Fisik Reaksi Emosi
Reaksi Kognitif / Pikiran Reaksi Perilaku
2. Yang sering membuat saya merasa stress ialah…..
Pekerjaan Lingkungan
Kondisi Fisik Sosial
3. a. Apa saja upaya yang telah lakukan selama ini untuk mengatasi stress?
b. Apa saja upaya yang dapat saya lakukan ke depan yang belum pernah saya lakukan selama ini untuk mengatasi stress?
4. Dalam hal apa dan bagaimana saya dapat mulai membiasakan mengatasi stress dengan strategi yang telah saya rencanakan?
Dapatkan Tips Seputar Masalah Stres! Masukanlah Nama dan Alamat Email Anda! Kami Akan Mengirimkannya Kepada Anda. Gratis!
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

[…] http://all-about-stres.com/2008/03/22/guide-to-a-better-stres/ […]
Pingback by Penanganan Stres dengan DIAZEPAM « farmakoterapi-info — May 19, 2008 @ 1:01 am
[…] http://all-about-stres.com/2008/03/22/guide-to-a-better-stres/ […]
Pingback by Tugas NAPZA « farmakoterapi-info — May 19, 2008 @ 1:17 am