stress, stres, about stress, mengenali stres, mengatasi stres, mengelola stres, stress relief, stress reduction, stress management
Kenali, Kelola dan Atasi Stres Dengan Baik
May 2nd, 2008 at 9:37 am
Posted By:
Posted in: Indonesian Articles

Stres pada Masa MenopauseMenopause merupakan suatu proses alamiah dan normal dialami oleh semua wanita. Seiring dengan pertambahan umur, tentunya semua fungsi organ tubuh juga mulai menunjukkan adanya perubahan-perubahan yang signifikan. Menopause sendiri dapat diartikan tidak mendapatkan haid selama 12 bulan setelah hari terakhirnya seorang wanita mendapatkan haid. Dalam bidang kedokteran menopause dapat terjadi akibat proses alamiah (natural menopause) dan yang sengaja dibuat berhenti haid misalnya, akibat tindakan bedah (surgical menopause) atau akibat pengobatan kanker (medical menopause). Tetapi dalam artikel ini kita akan lebih fokus pada menopause alamiah.

Dalam usia reproduktif, indung telur wanita menghasilkan sel telur dan hormon wanita yang disebut estrogen dan progesteron. Sel telur berperan dalam proses konsepsi. Sedangkan hormon estrogen dan progesteron berperan dalam pengaturan siklus haid beserta perubahan-perubahan pada tubuh dan mental yang menyertai siklus haid tersebut. Pada menopause, indung telur ini akan berhenti menghasilkan sel telur dan berkurangnya produksi hormon.

Tidak ada seorang pun yang dapat dengan pasti menentukan kapan menopause ini datang. Kebanyakan wanita akan mengalaminya pada usia 50 tahun tetapi tidak menutup kemungkinan jika terjadi lebih cepat atau lebih lambat. Proses menopause ini akan memakan waktu antara 3 sampai 5 tahun sampai dinyatakan lengkap ketika seorang wanita telah berhenti haid selama 12 bulan.

Masa menopause seringkali ditandai dengan berbagai macam keluhan atau gejala yang meliputi aspek fisik maupun psikologis. Salah satu gejala fisik yang timbul akibat perubahan hormonal adalah menurunnya fungsi organ reproduksi yaitu ovarium. Pada usia sekitar 45 tahun didapati keluhan haid yang mulai tidak teratur. Biasanya ditandai dengan memendeknya siklus haid dibandingkan dengan siklus haid pada wanita yang lebih muda. Selain itu timbul pula gejolak rasa panas (hot flashes). Arus panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai berkurang dan berlangsung sampai haid benar-benar berhenti.

Sheldon H.C (dalam Rosetta Reitz, 1979) mengatakan “ kira-kira 60% wanita mengalami arus panas”. Munculnya hot flashes ini sering diawali pada daerah dada, leher atau wajah dan menjalar ke beberapa daerah tubuh yang lain. Hal ini berlangsung selama dua sampai tiga menit yang disertai pula oleh keringat yang banyak. Ketika terjadi pada malam hari, keringat ini dapat menggangu tidur dan bila hal ini sering terjadi akan menimbulkan rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi. Selain itu, rendahnya kadar estrogen merupakan penyebab proses osteoporosis (kerapuhan tulang). Osteoporosis merupakan penyakit yang paling banyak menyerang wanita yang telah menopause. Menurunnya kadar estrogen akan diikuti dengan penurunan penyerapan kalsium yang terdapat dalam makanan. Kekurangan kalsium ini oleh tubuh diatasi dengan menyerap kembali kalsium yang terdapat dalam tulang, dan akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh.

Sedangkan munculnya gejala psikologi ketika menopause sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara aspek organ-biologis, sosial, budaya dan spiritual dalam kehidupan wanita. Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause adalah mudah tersinggung, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar, tegang (tension), cemas, stres, dan depresi. Stres adalah ketegangan fisik dan mental atau emosional karena tubuh kita merespon terhadap tuntutan, tekanan dan gangguan yang ada di sekeliling kita. Stres adalah suatu keadaan atau tantangan yang kapasitasnya diluar kemampuan seseorang oleh karena itu, stres sangat individual sifatnya.

Konsekuensi yang paling menonjol bagi pengertian menopause dari determinasi biological yaitu “sehat” dan “sakit” adalah melabel menopause sebagai sebuah penyakit. Hubungan positif usia dengan kemunculan penyakit mendukung sistem sosial untuk memberi label “menopause sebagai penyakit” Label tersebut sudah sangat kuat dalam sistem sosial di masyarakat juga terkait dengan anggapan produksi estrogen ada lah normal, dan ketika tubuh wanita tidak memproduksinya lagi, dianggap tidak normal.

Penjelasan di atas merupakan salah satu faktor yang dapat menjelaskan mengapa wanita mengalami stres pada masa menopause menurut teori “Cognitive Stress System”. “Stres is not so much a physical property of a situation as it is a transavtion between person and environment” (Lazarus & Launier, 1978).

Stres bermula dengan primary appraisal yaitu ketika kita merasakan bahwa keadaan fisiologis atau psikologis akan mengancam kita, baik itu nyata atau imajinatif. Secondary appraisal menjawab dengan apa yang harus saya lakukan terhadap keadaan tersebut respon apa yang akan saya tampilkan, stres akan berakhir jika kita behasil mempraktikkan metode coping untuk menetralisasi keadaan tersebut. Maka, menurut teori ini, stres lebih merupakan sebuah produk dari proses kognitif, tentang apa yang kita pikirkan dan bagaimana kita menilai keadaan. Menopause yang dianggap sebagai hal yang negatif menciptakan sebuah persepsi yang negatif pula yang berpotensi menjadi primary appraisal, awal dari stres.

Stres pada masa menopause merupakan salah satu dari harm-loss stressful appraisal yang terkait erat dengan penurunan self-esteem wanita. Penurunan self-esteem ini merupakan kehilangan yang bersifat psikologis. Hal ini terlihat dari persepsi bahwa menopause mengakibatkan menurunnya daya tarik fisik dan seksual. Tubuh semakin renta, kulit semakin peyot, dan wajah semakin suram. Tentu saja ini bagi istri akan berlanjut dengan sikap cemas dan rasa takut. Terutama tentang perhatian suami terhadap mereka. Mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi yang hilang.

Stres pada masa menopause dapat dipercepat oleh ketidakstabilan hormon yang menyebabkan wanita masuk dalam siklus yang jahat. Menopause menyebabkan stres. Stres yang terjadi memicu semakin banyak produksi hormon sehingga hormon tidak seimbang. Semakin besar ketidakseimbangan hormon yang terjadi membawa wanita semakin stres. Namun, perlu diperhatikan juga bahwa stres yang dialami wanita menopause tidak hanya memberikan dampak negatif, tapi dapat juga memberikan dampak positif. Apakah kemudian dampak itu positif atau negatif, tergantung pada bagaimana individu memandang dan mengendalikannya. Apabila menopause dipandang secara santai, normal dan menambah motivasi maka akan menjadi eustress atau stres yang positif. Jika dipandang sebagai ketidaknyamanan dan tidak di optimalkan dengan tepat maka akan menjadi distress atau stress yang negatif.

Akibat-akibat stres negatif yang akut dapat menimbulkan penyakit depresi atau kecemasan. Sedangkan stres yang kronik dapat menimbulkan gangguan jiwa yang berat (schizophrenia). Tidak semua individu mengalami gangguan bila mengalami stres. Hal ini sangat tergantung dari kepribadian seseorang, kesehatan individu, falsafah hidup / agama seseorang, persepsi (tanggapan seseorang terhadap stres yang bermacam-macam: biasa, agak risau, sangat mengganggu) dan posisi sosialnya, apakah individu dapat mengembangkan perannya sebagai mahluk individu dan mahluk sosial.

Setelah memahami pengertian menopause, stress pada masa menopause beserta penyebabnya maka, sekarang akan dipaparkan mengenai strategi-strategi untuk mengoptimalkan stress tersebut. Ada banyak cara untuk mengoptimalkan stress pada masa menopause. Artikel ini memakai teori kognitif untuk menjelaskan penyebab stres pada masa menopause sehingga, coping stres yang akan dikemukakan berdasarkan pada perluasan teori kognitif tersebut.

Mula-mula kita harus mengenali sumber coping. Sumber coping terdiri dari dukungan sosial dan yang kedua adalah kepercayaan dan nilai. Paling tidak ada dua kemungkinan pandangan bagaimana dukungan sosial berfungsi. Pertama, dukungan sosial menyediakan efek penyangga, melindunggi seseorang dari efek stres yang merugikan. Kedua, dukungan sosial bekerja melalui efek yang langsung seperti dukungan materi. Kepercayaan dan nilai juga penting karena dapat menuntun seseorang dalam penilaiannya terhadap situasi untuk mengurangi kadar stres yang dialami. Praktik religius, iman dalam beragama merupakan salah satu element dari strategi coping. Selain itu diperlukan optimisme, self-efficacy, self esteem, dan wellness. Self efficacy adalah bagian dari secondary appraisal, yang menyatakan bahwa ketika seseorang percaya dapat melakukan sesuatu maka akan meningkatkan kemungkinannya untuk berhasil. Maka dalam hal ini adalah hubungan anatara tuntutan dengan kemampuan dan kepercayaan diri yang tinggi untuk mengelola stress. Self esteem berarti menerima dan memiliki pandangan yang positif terhadap diri. Self esteem akan meningkat seiring dengan peningkatan self efficacy. Wellness adalah kualitas kesehatan yang dinikmati mencakup kegiatan fisik, mengatur berat badan, dan menghindari prilaku berisiko.

Setelah mengenal sumber coping, kita akan melanjutkan dengan usaha coping. Pertama adalah pengaturan kembali struktur kognitif (Cognitive Restructuring) dengan mengubah persepsi. Kita dapat mengubah persepsi pribadi mengenai sebuah keadaan untuk mengatasi keadaan tersebut. Mulanya adalah mengubah persepsi kita mengenai menopause. Memaklumi menopause sebagai peristiwa wajar dan normal, yang berarti tidak perlu dirisaukan secara berlebihan. Menopause mungkin telah membuat kita meragukan self efficacay kita. Maka kita mencoba meraih kembali kekuatan dan kepercayaan untuk melewati situasi ini dengan berpegang pada pendirian bahwa menopause adalah siklus alami yang dialami semua wanita. Pada akhirnya, kita juga harus mencoba mempertinggi self esteem melalui evaluasi positif diri.

Usaha lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan Self Statement Modification (SSM). SSM berawal dari asumsi bahwa orang yang mengalami kecemasan umumnya melakukan dialog pada diri sendiri seperti “saya buruk”, “saya tidak mampu”. SSM dapat dipraktikkan dimulai dengan positive self-talk (”menopause adalah hal yang alamiah”, ”saya tetap fit dan sehat”), kemudian mengeliminasi pemikiran negatif dan mengkontrol emosi kognitif (”saya tidak perlu khawatir”).
Kita juga dapat menggunakan dukungan sosial dengan mencoba mendiskusikan penyebab stres dengan orang yang memahami situasi menopause atau sudah berpengalaman menjalani masa menopause. Bergabung dalam kelompok wanita yang juga mengalami menopause. Membaca riwayat para wanita sukses dalam mengendalikan mental menjelang menopause, sehingga kita termotivasi untuk melangkah maju dengan percaya diri. Selain itu bergabung dengan kelompok religius, menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan juga dapat memotivasi Anda untuk menjalani hidup dengan baik, penuh semangat dan harapan.

Strategi lain yang bermanfaat pada masa menopause yaitu berdasarkan pada fakta bahwa stres dapat mengganggu fungsi kelenjar adrenal. Padahal kelenjar adrenal ini membantu produksi estrogen pada masa menopause sehingga sangatlah penting bagi kelenjar adrenal untuk berfungsi sebagaimana mestinya. Aktivitas seperti olahraga rutin, yoga, relaksasi dan meditasi dapat membantu mengurangi ketegangan dan memiliki efek menenangkan pikiran sehingga berdampak positif dan memiliki kemungkinan mengurangi stres.

Menggiatkan olahraga yang sesuai dengan kemampuan tubuh, supaya bisa mengimbangi kekurangan tubuh akibat menopause, sehingga mutu kehidupan bisa dipertahankan. Ini akan bisa dilaksanakan dengan semangat/antusias bila kita yakin bahwa olahraga bisa memberikan nilai tambah terhadap kualitas tubuh, meskipun usia sudah memasuki menopause. Banyak wanita mempunyai persepsi keliru, seakan-akan olahraga tidak berguna bagi wanita menopause. Padahal menurut penelitian oleh Gosselin and Taylor 1999 mengemukakan bahwa olahraga membantu mengurangi suasana hati yang negatif dan meningkatkan suasana hati positif, dengan hasil terbaik bahwa olahraga dilakukan secara teratur.

Meditasi adalah aktivitas mengkondisikan pikiran. Meditasi adalah relaksasi yang lebih umum dengan mengurangi stres yang disebabkan oleh pikiran. Teknik meditasi memiliki dua fase yaitu menenangkan tubuh dan pikiran. Seni dari meditasi adalah kemampuan untuk mempertahankan keadaan rileks, konsentrasi pasif dengan keadaan di bawah kontrol dan kewaspadaan. Metode meditasi sendiri dibagi menjadi dua yaitu konsentrasi dan kontemplasi. Konsentrasi mengimplikasikan atensi kepada satu subjek dan mengkontrol pikiran kita yang terbiasa beranjak dari satu hal ke hal lain. Kontemplasi hampir mirip dengan konsentrasi. Perbedaan utamanya terletak pada objek kontemplasi (biasanya objek eksternal seperti salib, patung ) sebagai simbol.

Penjelasan singkat pengertian menopause beserta Beberapa alternatif untuk mengoptimalkan stres pada masa menopause sudah dipaparkan. Penulis berharap bahwa artikel ini dapat menjadi inspirasi bagi setiap orang yang membacanya.

By Febrina

DAFTAR PUSTAKA

GANNON, Linda R. 1999. Woman and Aging, USA: Routeledge.

GIRDANO, Daniel A., Dorothy E. Dusek, George S. Everly, Jr. 2005. Tcontrolling Stress and Tension,United States of America :Pearson Education, Inc.

RICE, Phillip L.1992. Stress and Health, California: Wadsworth, Inc.





No Comments

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment