<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.2" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>All About Stress.com</title>
	<link>http://all-about-stress.com</link>
	<description>Informasi untuk mengenali, mengelola dan mengatasi stres dengan baik</description>
	<pubDate>Fri, 02 May 2008 09:55:43 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Stress, I&#8217;m in love!!!</title>
		<link>http://all-about-stress.com/2008/05/02/stress-im-in-love/</link>
		<comments>http://all-about-stress.com/2008/05/02/stress-im-in-love/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 09:55:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesian Articles]]></category>

		<category><![CDATA[coping]]></category>

		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>

		<category><![CDATA[stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://all-about-stress.com/2008/05/02/stress-im-in-love/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Siapa sih yang nggak pernah stres di dunia ini dan siapa sih yang nggak pernah merasakan jatuh cinta di dunia ini?&#8221; Saya sependapat dengan anda, pasti anda pernah merasakan apa itu rasanya stres dan apa itu rasanya jatuh cinta. Hanya saja apa hubungan antara dua hal tersebut yang mungkin dapat kita ambil manfaatnya. Banyak sekali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/05/falling-in-love.jpg" title="Stress, I’m in love"><img src="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/05/falling-in-love.thumbnail.jpg" alt="Stress, I’m in love" /></a>&#8220;Siapa sih yang nggak pernah stres di dunia ini dan siapa sih yang nggak pernah merasakan jatuh cinta di dunia ini?&#8221; Saya sependapat dengan anda, pasti anda pernah merasakan apa itu rasanya stres dan apa itu rasanya jatuh cinta. Hanya saja apa hubungan antara dua hal tersebut yang mungkin dapat kita ambil manfaatnya. Banyak sekali artikel, buku, website, majalah, penelitian, teori atau apa sajalah yang membahas mengenai arti dan penjelasan stres sama banyaknya dengan pembahasan mengenai apa itu jatuh cinta. Menurut anda mana yang menyebabkan yang mana? atau mana yang disebabkan yang mana? Atau bagaimana?</p>
<p>Sebenarnya pada saat anda jatuh cinta, pada saat itulah anda mengalami stres. Oke, mungkin anda sedikit bingung dengan pendapat ataupun pernyataan yang saya tulis di atas. Sebelum saya menjelaskan hubungan dan arti dari pernyataan saya di atas, sebaiknya kita sama – sama mengenal apa itu stres dan apa itu cinta.</p>
<p><strong>Apa itu Stres?</strong></p>
<p>Stres adalah suatu kondisi dimana keadaan tubuh terganggu karena tekanan psikologis. Biasanya stres dikaitkan bukan karena penyakit fisik tetapi lebih mengenai kejiwaan. Akan tetapi karena pengaruh stres tersebut maka penyakit fisik bisa muncul akibat lemahnya dan rendahnya daya tahan tubuh pada saat tersebut</p>
<p>Jatuh cinta itu merupakan stressor bagi kita, baik yang berasal dari dalam dan berasal dari luar tubuh kita. intinya pada saat kita jatuh cinta, kita mengalami stres. Hanya saja stres yang timbul pada setiap pribadi berbeda, jatuh cinta dapat menjadi eustres (stres positif) atau distres (stres negatif).</p>
<p>Contoh stres positif:<br />
Pada saat kita jatuh cinta  kita merasa lebih percaya diri, tertantang atau termotivasi dan membuat diri kita merasa nyaman, performa diri yang meningkat, sistem kekebalan meningkat, menjadi kuat.</p>
<p>Atau stres negatif Pada saat kita jatuh cinta kita merasa takut, lemah, tidak percaya diri, rendah diri, kualitas diri yang berkurang, terkadang merasa cemas yang amat sangat, bahkan dapat menimbulkan frustasi yang berkepanjangan.</p>
<p><strong>Apa itu jatuh cinta?<br />
</strong>Para ilmuwan Italia melakukan penelitian terhadap 12 pria dan 12 wanita yang jatuh cinta dalam 6 bulan terakhir.<br />
Mereka menemukan, para pria ini memiliki kadar hormon testosteron lebih rendah ketimbang normal, sementara wanita memiliki kadar hormon lebih tinggi ketimbang biasanya.<br />
&#8220;Dalam keadaan jatuh cinta, tubuh manusia secara alamiah seolah-olah ingin menghapuskan perbedaan antara pria dan wanita, agar hubungan bisa bertahan.&#8221;(KOMPAS, Jumat, 04 Juni 2004, 14:07 WIB).</p>
<p>Jatuh cinta adalah sebuah rasa yang dimiliki seseorang ketika melihat seseorang lainnya (biasanya dari jenis kelamin yang lain) yang menarik perhatiannya. Apabila kedua orang ini cocok dan menjadi pasangan, maka rasa ini juga masih ada pada permulaanrelasi</p>
<p><strong>Proses jatuh cinta!?!?<br />
</strong>Dari stressor lalu kita ke reaksi,<br />
Nah, lalu proses apa sih yang terjadi pada diri kita? Ternyata di dalam tubuh kita mengalami proses diproduksinya beberapa zat-zat tertentu yang sedikit membius otak dan efeknya bisa disamakan dengan efek narkoba. Zat-zat tertentu ini dinamakan feromon.</p>
<p>Feromon adalah zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Sedangkan feromon yang diproduksi oleh hormon pada manusia merupakan sinyal kimia yang berada di udara yang tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan tapi hanya bisa dirasakan oleh VMO (alat Bantu penciuman) di dalam hidung/indra pencium. Sinyal ini dihasilkan oleh jaringan kulit khusus yang terkonsentrasi di dalam lengan. Sinyal feromon ini diterima oleh VMO dan dijangkau oleh bagian otak bernama hipotalamus. Di sinilah terjadi perubahan hormon yang menghasilkan respons perilaku dan fisiologis.  </p>
<p>Efeknya ialah membuat seseorang kecanduan sehingga ingin melihat pasangannya atau orang idamannya sesering mungkin. Proses inilah yang disebut reaksi diri kita terhadap stressor. </p>
<p>Reaksi menimbulkan perubahan, dan pada saat kita jatuh cinta biasanya ada yang berubah dari diri kita. Perubahan (change) merupakan salah satu proses hidup yang berhubungan kuat dengan stres. Selain reaksi perubahan sistem di dalam tubuh kita, perubahan juga terjadi di luar tubuh kita seperti, perubahan pola makan, perbedaan detak jantung, pernafasan, hingga perubahan pola pikir atau mindset.</p>
<p>&#8220;It&#8217;s not stress that kills us,<br />
it is our reaction to it&#8221;(Hans Selye) </p>
<p><strong>Apa Hubungan Jatuh Cinta dengan Stres?</strong></p>
<p>Ialah dimana kita merasakan adanya perubahan pada diri kita yang bisa mempengaruhi sistem di dalam atau di luar dari tubuh kita. Baik perubahan yang disadari ataupun perubahan yang tidak disadari, reaksi – reaksi yang muncul pada saat kita jatuh cinta termasuk juga atau hampir sama pada saat kita mengalami stres. Seperti:</p>
<p>• Respon otot: pada saat kita berekspresi (tersenyum, tertawa, sedih, bahagia, kaget dll.) otot – otot pada wajah kita bekerja dan bergerak sesuai dengan ekspresi apa yang kita rasakan. Pada saat kita jatuh cinta, ekspresi yang lebih sering digunakan ialah tersenyum dan bahagia.<br />
• Respon jantung<br />
Terasa pada saat kita merasakan degub jantung yang semkin kencang pada s aat kita bertemu atau bertatap muka dengan pasangan kita.<br />
• Respon dari kulit<br />
Kulit atau pori – pori merupakan salah satu media di mana feromon disebarkan. Selain itu kulit juga memproduksi cairan keringat. Terkadang kita merasa grogi dan nervous pada saat kita bertemu dengan calon pasangan kita. Perasaan ini menstimulasi hormon kelenjar keringat untuk memproduksi keringat.( Girdano, L A. 2005).</p>
<p>Selain perubahan biologis atau pada tubuh kita, terdapat perubahan pula pada pola makan dan pola istirahat. &#8220;hasil penelitian Helen Fisher dan kawan-kawan, ketika seseorang memandang kekasih hatinya, dopamin akan merangsang bagian ventral tegmental dan caudate nucleus di otak menyala. Dalam dosis yang tepat, dopamin menciptakan kekuatan, kegembiraan, perhatian yang terpusat, serta dorongan yang kuat untuk memberikan imbalan. Itulah sebabnya jatuh cinta dapat membuat makan tak enak, tidur tak nyenyak&#8221;.</p>
<p>Pada artikel yang sama, peneliti-peneliti lain menunjukkan bahwa gangguan kimiawi tubuh memang terbukti ketika seseorang jatuh cinta. Misalnya didapatkan bahwa kadar serotonin orang yang terobsesi dan kekasihnya 40 persen lebih rendah dari kadar serotonin orang normal.</p>
<p>Srotonin adalah hormon sangat penting dalam perkembangan otak. Kadar yang rendah hormon ini biasanya dihubungkan dengan perilaku agresif, impulsif dan tindak bunuh diri. (KOMPAS, Kamis, 17 Januari 2008 | 10:26 WIB ).Selain itu, stres juga menimbulkan kontrol emosi yang sulit dan juga menyebabkan diri kita kurang aware dengan lingkungan di sekitar kita. Kita menjadi kurang peka terhadap apa yang terjadi di sekitar kita, istilahnya sedang &#8216;berbunga -bunga&#8217;, perasaan yang timbul secara spontan ini tidak dapat kita hindari atau kita sanggah. Yaitu perasaan ada saat di mana kita selalu memikirkan, membayangkan, dan bahkan bercerita mengenai diri&#8217;nya&#8217; kepada setiap orang yang kita temui. Lalu apa yang harus kita lakukan???</p>
<p>Maka, &#8220;jatuh cinta&#8217;s stres symptom&#8221; begitu saya menyebutnya. Sebaiknya jangan dihindari dan jangan terlalu dinikmati, tetapi di kelola dan dimanage dengan optimal dengan cara yang benar. Seperti halnya stres, kita harus berusaha untuk mengoptimalkan stres yang disebut coping strategy.<br />
 <br />
Banyak sekali cara untuk mengelola stres ini, hanya saja kita tidak mengetahui bagaimana cara yang benar, tepat, dan bermanfaat dalam pelaksanaannya. Yang paling sederhana ialah breathing and relaxation, cara ini sebaiknya digunakan dimana pada saat kita merasa pernafasan kita mengalami perubahan dikarenakan detak jantung yang mulai berdegub kencang ketika atau akan bertemu Si Dia. latihan dibagi menjadi tiga step:</p>
<ul>
<li><em>Breathing down</em><br />
Tentukan posisi tubuh yang nyaman,  Bernafas secara perlahan, tidak terburu – buru dan membayangkan sesuatu yang bersifat menenangkan, tahan nafas beberapa saat dan mengatakan pada diri sendiri biarkan diri ini tenang, dan secara perlahan keluarkan udara dari hidung.</li>
<li><em>Kontrol tempo breathing<br />
</em>Tempatkan jarimu pada nadi di tangan, setelah itu bernafas secara perlahan, perhatikan dan rasakan denyut nadi di tangan. Setelah itu tentukan jumlah hitungan untuk tiap menarik nafas, menahan nafas, dan membuangnya.</li>
<li><em>Breath counting</em><br />
Lakukan seperti controlling tempo breathing ditambah kita berkata di dalam hati &#8220;tarik&#8230;buang…tarik…buang…tarik&#8221; begitu seterusnya, secara konstan. Lakukan sepuluh hitungan di setiap stepnya. Apabila dilakukan dengan benar, perasaan cemas dan degup jantung yang keras diharapkan akan kembali normal. Ketiga cara pernafasan ini sebaiknya dilakukan pada saat kita merasa kelelahan atau ingin menenangkan debar jantung yang kencang( Girdano, L A. 2005). </li>
</ul>
<p>Selain latihan pernafasan, alternative lainnya ialah kita berolah raga. Kenapa? Dengan berolah raga kita dapat merasakan perubahan dari segi psikis dan fisik. Kita menjadi terlihat segar dan memancarkan enegi positif, sehingga kita menjadi nyaman atas diri kita sendiri, kita dapat mengontrol emosi dan perasaan kita.<br />
Yang terpenting ialah kita harus berpikir positif akan diri kita (self-esteem yang tinggi) dan orang lain, termasuk Si Dia. Di mana pada saat kita berbicara, kita menatap matanya dan menggunakan bahasa yang tegas dan tidak terlihat membingungkan.</p>
<p>Dan cara yang terakhir ialah istirahat dan tetap menjaga pola makan sekaligus nutrisinya. Kita ketahui dari penjelasan di atas bahwa pada saat kita jatuh cinta, pola makan kita berubah, mungkin perubahan yang terjadi haruslah kita ikuti tetapi jangan kita terlarut di dalamnya. Dengan berpikir positif dan jernih, kita dapat memilah antara mana kebahagiaan yang bermanfaat atau merugikan. Dengan kita megenal apa itu stres, apa itu stressor atau sember stres,  apa reaksi yang kita rasakan, dan bagaimana kita dapat merngoptimalkan stres dengan coping strategy yang kita ketahui sebelumnya. Sehingga stress yang dirasakan dapat kita kelola dan kendalikan sesuai dengan kadar atau kapasitasnya terhadap psikologis dan psikis kita. </p>
<p><strong>Kesimpulan<br />
</strong>Jatuh cinta dan stres memiliki hubungan. Jatuh cinta merupakan salah satu sumber stres dengan segala gejalanya (sisi positif dan negatifnya). Stres tidak untuk dihindari tetapi dikelola dan dioptimalkan dengan cara dan waktu yang tepat. Intinya, jatuh cinta itu menyenangkan apabila kita lebih mengenal arti, akibat, penjelasan, dan maksudnya. Selamat menikmati datangnya cinta.</p>
<p><em>By Rangga SamodraY</em> </p>
<p>Daftar pustaka</p>
<p>Girdano, L A. 2005. Controlling Stress and Tension 7th edition. San Fransisco : Benjamin Cumming</p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://all-about-stress.com/2008/05/02/stress-im-in-love/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Stres pada Masa Menopause</title>
		<link>http://all-about-stress.com/2008/05/02/stres-pada-masa-menopause/</link>
		<comments>http://all-about-stress.com/2008/05/02/stres-pada-masa-menopause/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 09:37:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesian Articles]]></category>

		<category><![CDATA[menopause]]></category>

		<category><![CDATA[stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://all-about-stress.com/2008/05/02/stres-pada-masa-menopause/</guid>
		<description><![CDATA[Menopause merupakan suatu proses alamiah dan normal dialami oleh semua wanita. Seiring dengan pertambahan umur, tentunya semua fungsi organ tubuh juga mulai menunjukkan adanya perubahan-perubahan yang signifikan. Menopause sendiri dapat diartikan tidak mendapatkan haid selama 12 bulan setelah hari terakhirnya seorang wanita mendapatkan haid. Dalam bidang kedokteran menopause dapat terjadi akibat proses alamiah (natural menopause) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/05/menopause.jpg" title="Stres pada Masa Menopause"><img src="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/05/menopause.thumbnail.jpg" alt="Stres pada Masa Menopause" /></a>Menopause merupakan suatu proses alamiah dan normal dialami oleh semua wanita. Seiring dengan pertambahan umur, tentunya semua fungsi organ tubuh juga mulai menunjukkan adanya perubahan-perubahan yang signifikan. Menopause sendiri dapat diartikan tidak mendapatkan haid selama 12 bulan setelah hari terakhirnya seorang wanita mendapatkan haid. Dalam bidang kedokteran menopause dapat terjadi akibat proses alamiah (<em>natural menopause</em>) dan yang sengaja dibuat berhenti haid misalnya, akibat tindakan bedah (<em>surgical menopause</em>) atau akibat pengobatan kanker (<em>medical menopause</em>). Tetapi dalam artikel ini kita akan lebih fokus pada menopause alamiah.</p>
<p>Dalam usia reproduktif, indung telur wanita menghasilkan sel telur dan hormon wanita yang disebut estrogen dan progesteron. Sel telur berperan dalam proses konsepsi. Sedangkan hormon estrogen dan progesteron berperan dalam pengaturan siklus haid beserta perubahan-perubahan pada tubuh dan mental yang menyertai siklus haid tersebut. Pada menopause, indung telur ini akan berhenti menghasilkan sel telur dan berkurangnya produksi hormon.</p>
<p>Tidak ada seorang pun yang dapat dengan pasti menentukan kapan menopause ini datang. Kebanyakan wanita akan mengalaminya pada usia 50 tahun tetapi tidak menutup kemungkinan jika terjadi lebih cepat atau lebih lambat. Proses menopause ini akan memakan waktu antara 3 sampai 5 tahun sampai dinyatakan lengkap ketika seorang wanita telah berhenti haid selama 12 bulan.</p>
<p>Masa menopause seringkali ditandai dengan berbagai macam keluhan atau gejala yang meliputi aspek fisik maupun psikologis. Salah satu gejala fisik yang timbul akibat perubahan hormonal adalah menurunnya fungsi organ reproduksi yaitu ovarium. Pada usia sekitar 45 tahun didapati keluhan haid yang mulai tidak teratur. Biasanya ditandai dengan memendeknya siklus haid dibandingkan dengan siklus haid pada wanita yang lebih muda. Selain itu timbul pula gejolak rasa panas (hot flashes). Arus panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai berkurang dan berlangsung sampai haid benar-benar berhenti.</p>
<p>Sheldon H.C (dalam Rosetta Reitz, 1979) mengatakan “ kira-kira 60% wanita mengalami arus panas”. Munculnya <em>hot flashes</em> ini sering diawali pada daerah dada, leher atau wajah dan menjalar ke beberapa daerah tubuh yang lain. Hal ini berlangsung selama dua sampai tiga menit yang disertai pula oleh keringat yang banyak. Ketika terjadi pada malam hari, keringat ini dapat menggangu tidur dan bila hal ini sering terjadi akan menimbulkan rasa letih yang serius bahkan menjadi depresi. Selain itu, rendahnya kadar estrogen merupakan penyebab proses osteoporosis (kerapuhan tulang). Osteoporosis merupakan penyakit yang paling banyak menyerang wanita yang telah menopause. Menurunnya kadar estrogen akan diikuti dengan penurunan penyerapan kalsium yang terdapat dalam makanan. Kekurangan kalsium ini oleh tubuh diatasi dengan menyerap kembali kalsium yang terdapat dalam tulang, dan akibatnya tulang menjadi keropos dan rapuh.</p>
<p>Sedangkan munculnya gejala psikologi ketika menopause sebenarnya tidak dapat dipisahkan antara aspek organ-biologis, sosial, budaya dan spiritual dalam kehidupan wanita. Beberapa gejala psikologis yang menonjol ketika menopause adalah mudah tersinggung, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar, tegang (tension), cemas, stres, dan depresi. Stres adalah ketegangan fisik dan mental atau emosional karena tubuh kita merespon terhadap tuntutan, tekanan dan gangguan yang ada di sekeliling kita. Stres adalah suatu keadaan atau tantangan yang kapasitasnya diluar kemampuan seseorang oleh karena itu, stres sangat individual sifatnya.</p>
<p>Konsekuensi yang paling menonjol bagi pengertian menopause dari determinasi biological yaitu “sehat” dan “sakit” adalah melabel menopause sebagai sebuah penyakit. Hubungan positif usia dengan kemunculan penyakit mendukung sistem sosial untuk memberi label “menopause sebagai penyakit” Label tersebut sudah sangat kuat dalam sistem sosial di masyarakat juga terkait dengan anggapan produksi estrogen ada lah normal, dan ketika tubuh wanita tidak memproduksinya lagi, dianggap tidak normal.</p>
<p>Penjelasan di atas merupakan salah satu faktor yang dapat menjelaskan mengapa wanita mengalami stres pada masa menopause menurut teori “<em>Cognitive Stress System</em>”. “<em>Stres is not so much a physical property of a situation as it is a transavtion between person and environment”</em> (Lazarus &amp; Launier, 1978).</p>
<p>Stres bermula dengan primary appraisal yaitu ketika kita merasakan bahwa keadaan fisiologis atau psikologis akan mengancam kita, baik itu nyata atau imajinatif. Secondary appraisal menjawab dengan apa yang harus saya lakukan terhadap keadaan tersebut respon apa yang akan saya tampilkan, stres akan berakhir jika kita behasil mempraktikkan metode coping untuk menetralisasi keadaan tersebut. Maka, menurut teori ini, stres lebih merupakan sebuah produk dari proses kognitif, tentang apa yang kita pikirkan dan bagaimana kita menilai keadaan. Menopause yang dianggap sebagai hal yang negatif menciptakan sebuah persepsi yang negatif pula yang berpotensi menjadi primary appraisal, awal dari stres. </p>
<p>Stres pada masa menopause merupakan salah satu dari harm-loss stressful appraisal yang terkait erat dengan penurunan self-esteem wanita. Penurunan self-esteem ini merupakan kehilangan yang bersifat psikologis. Hal ini terlihat dari persepsi bahwa menopause mengakibatkan menurunnya daya tarik fisik dan seksual. Tubuh semakin renta, kulit semakin peyot, dan wajah semakin suram. Tentu saja ini bagi istri akan berlanjut dengan sikap cemas dan rasa takut. Terutama tentang perhatian suami terhadap mereka. Mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi yang hilang.</p>
<p>Stres pada masa menopause dapat dipercepat oleh ketidakstabilan hormon yang menyebabkan wanita masuk dalam siklus yang jahat. Menopause menyebabkan stres. Stres yang terjadi memicu semakin banyak produksi hormon sehingga hormon tidak seimbang. Semakin besar ketidakseimbangan hormon yang terjadi membawa wanita semakin stres. Namun, perlu diperhatikan juga bahwa stres yang dialami wanita menopause tidak hanya memberikan dampak negatif, tapi dapat juga memberikan dampak positif. Apakah kemudian dampak itu positif atau negatif, tergantung pada bagaimana individu memandang dan mengendalikannya. Apabila menopause dipandang secara santai, normal dan menambah motivasi maka akan menjadi eustress atau stres yang positif. Jika dipandang sebagai ketidaknyamanan dan tidak di optimalkan dengan tepat maka akan menjadi distress atau stress yang negatif.</p>
<p>Akibat-akibat stres negatif yang akut dapat menimbulkan penyakit depresi atau kecemasan. Sedangkan stres yang kronik dapat menimbulkan gangguan jiwa yang berat (schizophrenia). Tidak semua individu mengalami gangguan bila mengalami stres. Hal ini sangat tergantung dari kepribadian seseorang, kesehatan individu, falsafah hidup / agama seseorang, persepsi (tanggapan seseorang terhadap stres yang bermacam-macam: biasa, agak risau, sangat mengganggu) dan posisi sosialnya, apakah individu dapat mengembangkan perannya sebagai mahluk individu dan mahluk sosial.</p>
<p>Setelah memahami pengertian menopause, stress pada masa menopause beserta penyebabnya maka, sekarang akan dipaparkan mengenai strategi-strategi untuk mengoptimalkan stress tersebut. Ada banyak cara untuk mengoptimalkan stress pada masa menopause. Artikel ini memakai teori kognitif untuk menjelaskan penyebab stres pada masa menopause sehingga, coping stres yang akan dikemukakan berdasarkan pada perluasan teori kognitif tersebut.</p>
<p>Mula-mula kita harus mengenali sumber coping. Sumber coping terdiri dari dukungan sosial dan yang kedua adalah kepercayaan dan nilai. Paling tidak ada dua kemungkinan pandangan bagaimana dukungan sosial berfungsi. Pertama, dukungan sosial menyediakan efek penyangga, melindunggi seseorang dari efek stres yang merugikan. Kedua, dukungan sosial bekerja melalui efek yang langsung seperti dukungan materi. Kepercayaan dan nilai juga penting karena dapat menuntun seseorang dalam penilaiannya terhadap situasi untuk mengurangi kadar stres yang dialami. Praktik religius, iman dalam beragama merupakan salah satu element dari strategi coping. Selain itu diperlukan optimisme, self-efficacy, self esteem, dan wellness. Self efficacy adalah bagian dari secondary appraisal, yang menyatakan bahwa ketika seseorang percaya dapat melakukan sesuatu maka akan meningkatkan kemungkinannya untuk berhasil. Maka dalam hal ini adalah hubungan anatara tuntutan dengan kemampuan dan kepercayaan diri yang tinggi untuk mengelola stress. Self esteem berarti menerima dan memiliki pandangan yang positif terhadap diri. Self  esteem akan meningkat seiring dengan peningkatan self efficacy. Wellness adalah kualitas kesehatan yang dinikmati mencakup kegiatan fisik, mengatur berat badan, dan menghindari prilaku berisiko.</p>
<p>Setelah mengenal sumber coping, kita akan melanjutkan dengan usaha coping. Pertama adalah pengaturan kembali struktur kognitif (<em>Cognitive Restructuring</em>) dengan mengubah persepsi. Kita dapat mengubah persepsi pribadi mengenai sebuah keadaan untuk mengatasi keadaan tersebut. Mulanya adalah mengubah persepsi kita mengenai menopause. Memaklumi menopause sebagai peristiwa wajar dan normal, yang berarti tidak perlu dirisaukan secara berlebihan. Menopause mungkin telah membuat kita meragukan self efficacay kita. Maka kita mencoba meraih kembali kekuatan dan kepercayaan untuk melewati situasi ini dengan berpegang pada pendirian bahwa menopause adalah siklus alami yang dialami semua wanita. Pada akhirnya, kita juga harus mencoba mempertinggi self esteem melalui evaluasi positif diri.</p>
<p>Usaha lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan <em>Self Statement Modification</em> (SSM). SSM berawal dari asumsi bahwa orang yang mengalami kecemasan umumnya melakukan dialog pada diri sendiri seperti “saya buruk”, “saya tidak mampu”. SSM dapat dipraktikkan dimulai dengan positive self-talk (”menopause adalah hal yang alamiah”, ”saya tetap fit dan sehat”), kemudian mengeliminasi pemikiran negatif dan mengkontrol emosi kognitif  (”saya tidak perlu khawatir”).<br />
Kita juga dapat menggunakan dukungan sosial dengan mencoba mendiskusikan penyebab stres dengan orang yang memahami situasi menopause atau sudah berpengalaman menjalani masa menopause. Bergabung dalam kelompok wanita yang juga mengalami menopause. Membaca riwayat para wanita sukses dalam mengendalikan mental menjelang menopause, sehingga kita termotivasi untuk melangkah maju dengan percaya diri. Selain itu bergabung dengan kelompok religius, menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan juga dapat memotivasi Anda untuk menjalani hidup dengan baik, penuh semangat dan harapan.</p>
<p>Strategi lain yang bermanfaat pada masa menopause yaitu berdasarkan pada fakta bahwa stres dapat mengganggu fungsi kelenjar adrenal. Padahal kelenjar adrenal ini membantu produksi estrogen pada masa menopause sehingga sangatlah penting bagi kelenjar adrenal untuk berfungsi sebagaimana mestinya. Aktivitas seperti olahraga rutin, yoga, relaksasi dan meditasi dapat membantu mengurangi ketegangan dan memiliki efek menenangkan pikiran sehingga berdampak positif dan memiliki kemungkinan mengurangi stres.</p>
<p>Menggiatkan olahraga yang sesuai dengan kemampuan tubuh, supaya bisa mengimbangi kekurangan tubuh akibat menopause, sehingga mutu kehidupan bisa dipertahankan. Ini akan bisa dilaksanakan dengan semangat/antusias bila kita yakin bahwa olahraga bisa memberikan nilai tambah terhadap kualitas tubuh, meskipun usia sudah memasuki menopause. Banyak wanita mempunyai persepsi keliru, seakan-akan olahraga tidak berguna bagi wanita menopause. Padahal menurut penelitian oleh Gosselin and Taylor 1999 mengemukakan bahwa  olahraga membantu mengurangi suasana hati yang negatif dan meningkatkan suasana hati positif, dengan hasil terbaik bahwa olahraga dilakukan secara teratur.</p>
<p>Meditasi adalah aktivitas mengkondisikan pikiran. Meditasi adalah relaksasi yang lebih umum dengan mengurangi stres yang disebabkan oleh pikiran. Teknik meditasi memiliki dua fase yaitu menenangkan tubuh dan pikiran. Seni dari meditasi adalah kemampuan untuk mempertahankan keadaan rileks, konsentrasi pasif dengan keadaan di bawah kontrol dan kewaspadaan. Metode meditasi sendiri dibagi menjadi dua yaitu konsentrasi dan kontemplasi. Konsentrasi mengimplikasikan atensi kepada satu subjek dan mengkontrol pikiran kita yang terbiasa beranjak dari satu hal ke hal lain. Kontemplasi hampir mirip dengan konsentrasi. Perbedaan utamanya terletak pada objek kontemplasi (biasanya objek eksternal seperti salib, patung ) sebagai simbol.</p>
<p>Penjelasan singkat pengertian menopause beserta Beberapa alternatif untuk mengoptimalkan stres pada masa menopause sudah dipaparkan. Penulis berharap bahwa artikel ini dapat menjadi inspirasi bagi setiap orang yang membacanya.</p>
<p><em>By Febrina</em> </p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>GANNON, Linda R. 1999. Woman and Aging, USA: Routeledge.</p>
<p>GIRDANO, Daniel A., Dorothy E. Dusek, George S. Everly, Jr. 2005. Tcontrolling Stress and Tension,United States of America :Pearson Education, Inc.</p>
<p>RICE, Phillip L.1992. Stress and Health, California: Wadsworth, Inc.</p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://all-about-stress.com/2008/05/02/stres-pada-masa-menopause/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pacaran atau Tidak Pacaran?</title>
		<link>http://all-about-stress.com/2008/04/13/pacaran-atau-tidak-pacaran/</link>
		<comments>http://all-about-stress.com/2008/04/13/pacaran-atau-tidak-pacaran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Apr 2008 12:06:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesian Articles]]></category>

		<category><![CDATA[pacaran]]></category>

		<category><![CDATA[remaja]]></category>

		<category><![CDATA[stres]]></category>

		<category><![CDATA[tidak pacaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://all-about-stress.com/2008/04/13/pacaran-atau-tidak-pacaran/</guid>
		<description><![CDATA[Stres sudah menjadi bagian dari kehidupan kita masing-masing. Setiap manusia tidak ada yang sempurna dan tidak dapat luput dari kekurangan atau kesulitan hidup. Berbagai persoalan dalam hidup dapat membuat seseorang mengalami apa yang disebut dengan stres. Untuk itu, mari kita kenali dahulu arti kata stres tersebut. 
Menurut dr. Hans Selye, orang yang menemukan stres, beliau mendefinisikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/04/going-steady.jpg" title="going-steady.jpg"></a><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/04/going-steady.jpg" title="Pacaran"><img src="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/04/going-steady.thumbnail.jpg" alt="Pacaran" /></a>Stres sudah menjadi bagian dari kehidupan kita masing-masing. Setiap manusia tidak ada yang sempurna dan tidak dapat luput dari kekurangan atau kesulitan hidup. Berbagai persoalan dalam hidup dapat membuat seseorang mengalami apa yang disebut dengan stres. Untuk itu, mari kita kenali dahulu arti kata stres tersebut. </p>
<p>Menurut dr. Hans Selye, orang yang menemukan stres, beliau mendefinisikan stres sebagai reaksi tubuh yang tidak menentu terhadap apa yang dituntut dari tubuh itu (Sehnert, 1997). Ketika kita mengalami stres, tubuh atau jiwa kita dapat berespon akibat tekanan dari sumber stres yang kita alami. Sumber stres tersebut dapat berasal dari lingkungan, pekerjaan, orang lain, dan sebagainya. Berbagai perubahan akibat reaksi stres tersebut dapat terjadi pada fisik, emosi, pikiran, dan tingkah laku kita. Sekarang, tinggal bagaimana cara kita mengenali, mengatur dan mengatasi stres yang akan kita temui dalam kehidupan sehari-hari. </p>
<p>Sebagai seorang remaja yang masih rentan terhadap berbagai persoalan hidup, seringkali ketika menghadapi suatu masalah, hal tersebut menjadi sebuah tekanan. Mengapa begitu? G. Stanley Hall mengemukakan bahwa remaja adalah masa pergolakan yang diisi dengan konflik dan mood yang mudah berganti-ganti (Santrock, 2006). Remaja adalah masa peralihan dimana mereka masih berusaha mencoba-coba peran baru untuk menemukan jati diri mereka. Seperti halnya juga dengan menjalin hubungan atau pacaran. Hubungan romantik pada remaja bertujuan untuk meng-<em>explore</em> seberapa menarik dirinya, bagaimana mereka harus secara romantis berinteraksi dengan seseorang, dan bagaimana semuanya itu terlihat pada <em>peer group</em>nya (Brown,1999). Dari penjelasan tersebut, pacaran dilihat sebagai suatu cara untuk mencari tau hal-hal yang berkaitan dengan dirinya. Masalahnya adalah : bagaimana jika hubungan itu gagal? Sebagai seorang remaja yang memiliki emosi naik turun atau labil, apa dampak yang akan terjadi dan apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi kegagalan tersebut?</p>
<p>Cinta selalu dapat membangkitkan semangat kita dan seringkali membuat kita pusing. Kesenangan yang dialami oleh remaja saat masa berpacaran, dapat berubah ketika mereka sudah dewasa. Ketika dewasa, seseorang sudah tidak melihat lagi hal-hal yang tampak seperti penampilan fisik pasangannya. Mereka lebih memikirkan hal-hal yang penting untuk masa depan kedua belah pihak serta menyelesaikan masalah secara dewasa. Berbeda dengan orang dewasa, hal yang masih menonjol pada remaja adalah perasaannya. Jarang sekali remaja yang pertama kali berpacaran dimotivasi untuk memikirkan masa depan. </p>
<p>Emosi seseorang dimainkan saat menjalani kedekatan dengan seseorang. Disinilah seorang remaja perlu berhati-hati. Seringkali susah untuk menyeimbangkan antara emosi dan logika. Di awal remaja menjalani hubungan romantik, remaja sering hanya mencari kenyamanan dan pergi keluar bersama-sama dengan kelompok dari jenis kelamin yang berbeda (Santrock, 2006). Remaja seringkali hanya butuh dicintai dan mencintai pasangannya, tetapi disatu sisi sebenarnya ada hal yang lebih penting dari pacaran dan juga membutuhkan pikiran yang dewasa yaitu menerima pasangan apa adanya dan memikirkan apakah orang yang kita pilih memiliki prinsip-prinsip hidup yang sesuai dengan kita atau tidak. Itulah yang dinamakan dengan cinta yang sudah dewasa.</p>
<p>Seorang remaja yang baru pertama kali menjalin hubungan atau pacaran, ia akan berusaha untuk tampil sebegitu rupanya sehingga dapat menyenangkan pasangannya. Ia menampilkan sisi baiknya, penampilan terbaiknya, sifat yang baik dan segala sesuatu dari dirinya yang baik. Mau tidak mau perasaan dan emosi bermain disini dan hal tersebut menumbuhkan keterikatan yang lebih mendalam lagi antara keduanya. Disinilah dapat terjadi masalah. Ketika remaja diperhadapkan kepada situasi lain seperti pasangannya dekat dengan orang lain, sifat pasangan yang tadinya baik jadi cuek, dan sebagainya, hal ini dapat membuat orang yang memgalami itu kecewa. Jika sudah kecewa, emosi yang tadinya baik-baik saja dan perasaan yang sedang berbunga-bunga dapat berubah seketika. Ia dapat merasa tidak dihargai, tidak diinginkan lagi, dan dapat berujung kepada hal-hal yang tidak diinginkan seperti stres lalu bunuh diri. Jika kita mencoba terlalu keras untuk menjadi seorang pasangan yang sempurna, kita akan membentuk kecenderungan dasar dan membentuk ketegangan (Girdano, 2005).</p>
<p>Emosi dalam hubungan percintaan bagimanapun juga mudah diserang, khususnya pada remaja. Pikiran dan perasaan seseorang yang belum dewasa ketika pacaran menjadi tidak stabil dan seringkali menimbulkan stres ketika diperhadapkan dengan masalah-masalah yang ada. Stres dalam hubungan seseorang datang sebagai hasil dari kombinasi kegagalan karena harapan tidak tercapai dan kegagalan untuk mendapatkan apa yang kita mau (Girdano, 2005). Jika remaja gagal dalam menjalin hubungan, tidak jarang mereka frustasi dan marah karena tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi karena masih diliputi perasaan sedih dan ketidakdewasaan dalam berpikir. Perasaan sedih tersebut dapat berkelanjutan dan membuat seseorang menjadi frustasi bahkan depresi.  Seseorang dapat merasa sedih, murung, patah hati, kehilangan minat dan kegembiraan, ganguan tidur termasuk sulit tidur, terbangun di malam hari, ganguan nafsu makan, merasa tak berguna, merasa bersalah, sukar berkonsentrasi, sukar mengambil keputusan, pandangan masa depan suram, dan pesimistis. Hal-hal tersebut mungkin terjadi pada remaja dimana sebagian besar remaja masih dalam kondisi yang tidak stabil.</p>
<p>Ketika remaja menghadapi situasi baru, dimana ia baru pertama kali gagal dalam menjalin sebuah hubungan, mereka cenderung akan merasa berat untuk menjalaninya. Persepsi kita terhadap sebuah hubungan membentuk model tersendiri yang dapat berdampak pada stres, kesehatan dan kebahagiaan kita (Girdano, 2005). Persepsi seseorang dengan orang lain dapat jadi berbeda-beda dan hal itu juga akan menimbulkan kadar stres yang berbeda pula antara satu orang dengan yang lainnya. Ketika remaja melihat kegagalan sebagai suatu hal yang buruk, maka yang akan terjadi adalah ia menanamkan pikiran bahwa ia tidak berguna lagi, pesimis, tidak ingin hidup lagi, dan sebagainya. Jadi tidak heran ketika kita membaca judul-judul koran yang mengatakan bahwa remaja bunuh diri karena diputusin pacar, remaja lompat dari atas gedung karena diputusin pacar, dan sebagainya. Sebaliknya, jika remaja melihat kegagalan sebagai awal dari keberhasilan, ia tidak akan merasa putus asa karena kegagalan tersebut, justru ia akan menjadi lebih baik karena pengalaman-pengalaman yang sudah ia lewati dan menggunakan kegagalan tersebut sebagai pelajaran dikemudian hari. Lihatlah perbedaan tersebut.</p>
<p>Perubahan dari situasi yang lama kepada situasi yang baru memang seringkali membawa dampak tersendiri bagi setiap orang yang menjalaninya. Seperti yang dikatakan Girdano diatas, stres juga berdampak pada kesehatan. Ketika remaja stres karena kegagalan dalam menjalin hubungan, mereka cenderung putus asa dan sedih. Hal ini dapat mempengaruhi pola makannya. Biasanya, orang yang sedang sedih kehilangan nafsu makan. Tentu saja ini tidak baik bagi kesehatannya. Jika itu berlangsung lama dapat membuat seseorang tidak dapat berpikir jernih, berlarut-larut dalam kesedihan tersebut bahkan terkena penyakit. Ia tidak dapat berpikir logis dan menjadi cepat emosi. Orang yang mengalami stres tidak mungkin mengalami kesejahteraan pikiran sebab pikirannya bercabang antara minat-minat yang layak dan pikiran-pikiran yang merusak (Gintings, 1999). Oleh karena itu, selama pikiran yang merusak itu masih berada dalam pikiran kita dan kita berlarut-larut dengan hal tersebut, seseorang tidak dapat berpikir jernih untuk melihat sesuatu dari segi positifnya. Ketika remaja mengalami hal ini, ia tidak dapat berkonsentrasi belajar, mengurung diri di kamar, tidak mau melakukan apa-apa, menangis, melamun, dan murung. </p>
<p>Cinta tidak berasal dari otak kiri seseorang yang dapat memproduksi hal-hal yang bersifat logikal atau analitikal, tetapi ia berasal dari otak kanan dimana perasaan lebih menonjol daripada berpikir (Girdano,2005). Bayangkan jika remaja terlalu memiliki perasaan yang mendalam kepada pasangannya dan kehilangan kemampuan untuk berpikir logis ketika ia diperhadapkan dengan situasi yang berbeda. Apa reaksi yang akan dikeluarkan? Mungkin akan berujung kepada stres karena ia tidak mendapatkan apa yang ia mau dan harapannya selama ini tidak tercapai. Perasaan yang menonjol akan membuat remaja merasakan sakit hati dan kecemburuan yang tinggi bila harapannya tidak tercapai. Sumber stres yang paling jelas adalah pertengkara dan hal itu mempnyai kapasitas untuk menghancurkan hubungan dan menimbulkan tekanan emosi seperti takut, marah dan sakit hati (Girdano, 2005). Jika seseorang sudah sampai pada titik pertengkaran, ia dapat berada dalam situasi yang membuat ia tertekan jika tidak dihadapi dengan benar. Jika itu terjadi pada remaja, mereka akan merasakan tekanan emosi yang begitu hebat karena pada saat itu remaja sedang berada dalam emosi yang labil. Bagaimanapun juga, remaja perlu berhati-hati dalam menentukan dan memutuskan segala sesuatu.</p>
<p>Setelah mengetahui apa itu stres, sumber stres dan reaksi-reaksi stress, lalu pertanyaan berikutnya yang muncul adalah : bagaimana cara kita untuk menghadapi dan mengatasi masalah tersebut sebagai seorang remaja? Perubahan situasi dari situasi yang menyenangkan ke situasi yang tidak menyenangkan bagaimanapun juga memang susah untuk dihadapi. Tetapi ada banyak pilihan dalam kehidupan ini. Apakah kita mau terus terpuruk atau bangkit dari keterpurukan itu? Jawabannya ada pada diri masing-masing individu. Mari kita belajar untuk mengenali dahulu reaksi-reaksi stress dan sumber stres yang kita hadapi. Setelah itu hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengatasi atau menanggulangi stres dengan berbagai cara yang ada dan yang terakhir adalah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. </p>
<p>Berikut ini kita akan melihat hal-hal apa saja yang dapat dilakukan oleh remaja untuk mengurangi stres ketika mengalami kegagalan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu. Satu-satunya masalah yang harus kita hadapi ialah memilih pikiran yang tepat (Soekrama,2001). Pikiran kitalah yang menentukan akan menjadi seperti apa kita. Jika kita berpikir kegagalan dari sudut pandang yang buruk, kita akan berpikir bahwa kegagalan merupakan akhir dari segalanya. Hal selanjutnya yang akan terjadi adalah kita merasakan kesedihan yang luar biasa, sakit hati yang tidak bisa kita terima, lalu kita akan marah, kecewa, nangis dan sebagainya. Pikiran kita membentuk kita menjadi seseorang yang pesimis dan tidak berdaya. Sebaliknya, jika kita memandang kegagalan sebagai sesuatu yang positif, kita akan menenukan diri kita yang bersemangat untuk menatap masa depan. Kegagalan akan dilihat sebagai suatu pelajaran bila kita berpikir positif. Ketika menghadapi situasi yang sama di lain waktu, kita akan manjadi lebih dewasa dalam menyikapi masalah yang ada.</p>
<p>Orang tidak akan menderita karena apa yang terjadi, tapi menderita karena pendapatnya sendiri tentang apa yang terjadi (Soekrama, 2001). Hal yang bisa kita lakukan mulai saat ini adalah mengatakan pada diri sendiri apa yang mau kita lakukan dan meyakininya. Sebagai contoh, kita dapat mengatakan, “Hari ini saya mau memperkuat pikiran saya. Saya akan mempelajari sesuatu yang berguna. Saya tidak akan jadi orang yang lemah. Saya akan belajar memaafkan”. Pikiran dan keyakinan tersebut akan membawa kita kepada hari-hari yang menyenagkan buat kita. Kita harus berpikir dan bertindak dengan sukacita, karena dengan begitu kita akan merasa gembira. Bayangkan jika kita melihat suatu kegagalan sebagai suatu yang buruk. Pikiran kita akan dipenuhi dengan masalah-masalah, emosi yang tinggi dan tekanan. Hal tersebut tentu saja akan menggangu kehidupan sehari-hari yang kita jalani. Hari-hari kita akan berjalan berat dan kita akan merasa letih untuk menjalani hari-hari ke dapan. </p>
<p>Hal lain yang dapat kita lakukan untuk menghadapi stres karena kegagalan adalah menerima kenyataan. Bersedialah menerima apa adanya, sebab menerima apa yang terjadi adalah langkah pertama untuk mengatasi segala akibat kemalangan yang menimpa (Soekrama, 2001). Menerima kenyataan mungkin tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi bagaimanapun juga kita harus mencoba dan berlatih untuk menerima kenyataan. Mungkin dalam kasus ini, waktu sangatlah dibutuhkan. Tidak gampang bagi seseorang untuk melupakan kenangan-kenangan yang sudah dilalui bersama pasangannya. Tetapi bagaimanapun juga, kita tidak boleh berlarut-larut karena hal tersebut. Itu hanya akan membawa kita terjun lebih dalam lagi kepada pikiran-pikiran yang tidak berguna dan membuat kita lemah. Seiring berjalannya waktu, kita pasti dapat menghadapi kenyataan. Jika kita mengabaikan dan menolak kenyataan sehingga kita sendiri jadi senewen, ini tidak akan mengubah kenyataan tersebut (Soekrama, 2001). Ketika kita menghadapai suatu kegagalan dalam menjalin hubungan dan kita menjadi marah, hal tersebut tetap tidak akan mengubah kenyataan tersebut. Pilihannya kembali ke diri masing-masing kita. Apakah kita akan menerima kenyataan dan berpikir bahwa masih ada jalan yang lebih baik di depan sana ataukah kita memilih untuk membebani pikiran kita dengan kegagalan tersebut dan berlarut-larut dalam kesedihan.</p>
<p>Dalam menerima kenyataan, hal yang perlu diperhatikan juga adalah bahwa kita tidak boleh mengasihani diri kita sendiri. Seringkali pada remaja yang mengalami kegagalan, mereka terlalu mengasihani diri sendiri karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya sehingga berujung pada depresi bahkan ada yang bunuh diri. Hal tersebut justru akan lebih menambah beban pada diri sendiri. Berpikir bahwa kita gagal, bahwa kita tidak sanggup menjalani hari-hari ini tanpa kehadirannya lalu menyesalinya, menangis dan berkata bahwa kita tidak sanggup menjalani kehidupan ini, itulah salah satu bentuk mengasihani diri sendiri. Kita tidak boleh terpengaruh oleh keinginan untuk mengasihani diri sendiri dan ketakutan, tetapi terus saja belajar (Soekrama, 2001).</p>
<p>Hal berikut yang dapat kita lakukan adalah menarik pelajaran dari kegagalan yang telah kita perbuat. Cobalah untuk menganalisa hal-hal apa yang membuat kegagalan itu terjadi dan coba pikirkan apa baik buruknya dari kegagalan tersebut. Dari kebiasaan tersebut, kita dapat melatih diri kita untuk selalu melihat bahwa dibalik semua hal yang terjadi, pasti ada pelajaran yang dapat diambil dan yakinilah itu. Orang bijaksana tidak pernah meratapi kegagalannya tapi dengan gembira hati mencari jalan bagaimana bisa memulihkan kembali kerugian yang dideritanya (Soekrama, 2001). Kita pun juga dapat belajar menjadi orang bijaksana tersebut. Jangan merisaukan hal-hal yang telah terjadi. Hal itu hanya akan menghalangi kita untuk terus maju ke depan.</p>
<p>Salah satu cara lain yang dapat dilakukan remaja untuk mengatasi rasa stres adalah dengan menyibukkan diri. Kesedihan hati dapat disembuhkan dengan jalan menyibukkan diri (Soekrama, 2001). Walaupun tidak sepenuhnya kita dapat melupakan masalah dengan kesibukan yang kita lakukan, tetapi ini adalah salah satu cara agar kita tidak termakan oleh situasi dan perasaan yang membebani pikiran kita. Kebanyakan orang akan menjadi sedih apabila sedang berada di waktu santai.  Kita cenderung memikirkan apakah kita bahagia atau tidak. Sebagai seorang remaja, banyak sekali kegiatan yang dapat dilakukan untuk menyibukkan diri. Tentu saja harus menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif. Kita bisa memilih untuk aktif dalam organisasi, menyalurkan minat kita seperti bermain musik, olahraga, menari, melukis, membaca, dan sebagainya. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menyibukkan diri. Jika hal itu kita lakukan, kita dapat mengurangi stres yang kita hadapi.</p>
<p>Hal terakhir yang dapat kita lakukan adalah berdoa sesuai dengan agama masing-masing. Pentingnya doa secara psikologis adalah agar kita mendapat ketenangan dan dapat melewati suatu kelepasan dari ketegangan dan pergumulan (Gintings, 1999). Dengan menjaga tingkat spiritualitas kita, kita dapat mencari ketenangan ditengah-tengah keributan, keramaian, serta kesibukan yang ada didunia ini. Ketika berhubungan dengan Sang Pencipta, kita dapat menyerahkan segala kekhawatiran dan masalah-masalah kita. Kita akan senantiasa mendapat kekuatan untuk menghadapi segala hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Tidak ada alasan bagi kita untuk tetap stres jika kita sudah berhadapan dengan Sang Pencipta.</p>
<p>Sebagai seorang remaja, kegagalan harus dilihat sebagai suatu pelajaran. Ketika sudah dewasa, pengalaman-pengalaman yang telah dialalui dapat menjadi pengalaman berharga. Kita semakin dibentuk utnuk menjadi dewasa dengan adanya kegagalan-kegagalan tersebut. Jadi kita tidak perlu takut, cemas ataupun khawatir akan kegagalan yang dihadapi. Ada banyak cara untuk mengatasi stres akibat kegagalan dalam menjalin hubungan dengan seseorang. Sekarang tinggal bagaimana sebagai seorang remaja, kita memilih cara yang sesuai dan tepat untuk mengatasi stres.</p>
<p><em>By Enda Khristiana Ivena</em></p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<p>- Girdano, Daniel A. 2005. <em>Controlling Stress and Tension</em> (7th ed). San Fransisco : Pearson <br />
- Santrock, J.W.  2003. <em>Adolescent</em> (9th ed). NY : McGraw-Hill<br />
- Gintings, E.P. 1999. Mengantisipasi Stres dan Penanggulangannya. Yogyakarta :  Yayasan ANDI<br />
- Sehnert, Keith W. 1997. Mengendalikan Stres Dalam Rumah Tangga dan Pekerjaan. Bandung : Yayasan Kalam Hidup<br />
- Soekrama, Drs. 2001. Peningkatan dan Pemeliharaan Kesehatan Jiwa Serta Penanggulangan Stres. Jakarta : Yayasan Purna Bhakti Negara.<br />
 </p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://all-about-stress.com/2008/04/13/pacaran-atau-tidak-pacaran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>I am 21 years old…I’m afraid..</title>
		<link>http://all-about-stress.com/2008/04/13/i-am-21-years-old%e2%80%a6i%e2%80%99m-afraid/</link>
		<comments>http://all-about-stress.com/2008/04/13/i-am-21-years-old%e2%80%a6i%e2%80%99m-afraid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Apr 2008 11:50:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesian Articles]]></category>

		<category><![CDATA[stres]]></category>

		<category><![CDATA[stres pada remaja perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://all-about-stress.com/2008/04/13/i-am-21-years-old%e2%80%a6i%e2%80%99m-afraid/</guid>
		<description><![CDATA[ “Happy Birthday Nina….wow udah 21 tahun nih ya…udah besar donk”. “21 tahun? Wah udah boleh nih…siapa calonnya?”. “Selamat yah sekarang udah 21 tahun…semoga enteng jodoh..”. “Nak, kamu udah 21 tahun, sekarang udah waktunya kamu membuat rencana untuk hidup kamu ke depan. Waktu itu ibu menikah seusia kamu loh”. 
            
Apakah kamu seorang wanita berumur 21 tahun? Apakah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/04/stress-on-girls.jpg" title="stress-on-girls.jpg"></a><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/04/stress-on-girls.jpg" title="Stres Pada Remaja Perempuan"><img src="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/04/stress-on-girls.thumbnail.jpg" alt="Stres Pada Remaja Perempuan" /></a> “Happy Birthday Nina….wow udah 21 tahun nih ya…udah besar donk”. “21 tahun? Wah udah boleh nih…siapa calonnya?”. “Selamat yah sekarang udah 21 tahun…semoga enteng jodoh..”. “Nak, kamu udah 21 tahun, sekarang udah waktunya kamu membuat rencana untuk hidup kamu ke depan. Waktu itu ibu menikah seusia kamu loh”. <br />
            <br />
Apakah kamu seorang wanita berumur 21 tahun? Apakah pernyataan-pernyataan di atas pernah dilontarkan kepada kamu? Atau tanpa disadari sudah banyak temanmu yang menikah atau setidaknya menemukan pasangan yang sempurna dan kamu mulai menimbang-nimbang ke arah-arah pernyataan di atas?</p>
<p>Ulang tahun ke 17 adalah ulang tahun yang sangat ditunggu-tunggu dan tidak akan pernah dilupakan oleh sebagian besar para gadis karena disinilah orang akan mengatakan, “selamat yah kamu adalah gadis yang cantik” (penekanan pada kata gadis). Di ulang tahun ke 17 mama dan papa akan menyelenggarakan pesta ulang tahun yang luar biasa meriah, mengundang teman-teman, kue ulang tahun yang sama tingginya dengan kue pernikahan, dan sangat tak terlupakan karena kita adalah seorang putri selama satu hari, semua perhatian tertuju kepada kita. Keesokan harinya kita jalan-jalan bersama teman-teman satu geng, malam minggu seorang laki-laki ganteng akan menjemput kita dari rumah untuk kencan, mama dan papa pun masih sepenuhnya membiayai hidup kita dan satu-satunya yang serius harus dipikirkan adalah pelajaran di sekolah, belum ada tuntutan menikah, belum ada tuntutan untuk bekerja, dan belum ada masalah serius dengan pacar..macem-macem sedikit…putus…           </p>
<p>Ulang tahun ke 21 tidak jauh berbeda dengan ulang tahun kita yang ke 17 yaitu sangat ditunggu-tunggu namun mungkin sangat ingin juga dilupakan oleh sebagian besar perempuan karena pada kenyataannya kita bukan lagi seorang gadis remaja yang bebas karena disadari atau tidak kita sudah mulai terikat oleh berbagai harapan dan tuntutan<br />
orang tua, keluarga, dan lingkungan . pada hari inilah untuk pertama kalinya orang akan mengatakan, “selamat yah kamu adalah seorang WANITA sekarang” (penekanan pada kata wanita).</p>
<p>Apa sebenarnya tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan itu?<br />
“Nina, kapan kamu selesai kuliah? Papamu udah pensiun loh. Ingat! Mama dan papa harus masih membiayai adikmu”.<br />
Jika sekali atau dua kali kita dengar tidak akan menjadi masalah namun bila selalu diingatkan dan terkadang pada waktu-waktu yang tidak tepat seperti lelah, ngantuk karena begadang mengerjakan tugas, kalimat ini menjadi sangat menyebalkan. Di keluarga kita terus menerus dituntut sedangkan di tempat kuliah pun kita dihadapkan pada tugas-tugas dan pelajaran-pelajaran yang tak terhingga jumlahnya.<br />
 “Kamu kok udah nggak merhatiin aku sih? Kapan kita jalan bareng? Kamu udah ga sayang sama aku ya? Atau kamu udah punya yang lain?”.  Untuk masalah yang satu ini, terkadang kita patut merenungkan apakah lebih baik tidak memiliki pacar? Jadi, tidak ada tuntutan tambahan, tapi…siapa yang akan menjadi teman curhat kita? Siapa yang menjadi pengisi dalam kekosongan hati kita? Atau kita tetap mempunyai seseorang yang mengisi kekosongan hati tersebut tetapi tidak lepas dari masalah-masalah yang akan dihadapi oleh kedua pasangan yaitu berantem rutin misalnya gara-gara salah satu telat pada saat janjian, curiga-curigaan, sakit hati, tuntutan perhatian dari pasangan, dan rutinitas berantem lainnya. Punya atau tidak punyanya pasangan ternyata menjadi masalah. </p>
<p>“Kamu sudah harus memikirkan siapa yang menjadi pasangan hidup kamu. Umur-umur kamu bukan lagi umur-umur untuk cinta monyet tetapi umur-umur untuk serius karena pacar bukan saja pelengkap tetapi kebutuhan. Siapa yang menjadi pacar kamu pada umur ini biasanya dialah pilihan kamu” . Waduuu…..uuuuuuhhhhhhhhhhhhhh!!?? boro-boro kawin, punya aja belom???????!!!!! Atau “gue kan belom serius-serius amat sama dia dan kayaknya sih emang bukan dia pilihan gue, tapi nanti dulu deh. Gimana sih mama, masa udah harus mikirin kawin. Nanti dulu deh… kayaknya banyak yang pengen gue raih sebelum gue nikah. Kok enggak ada yang ngertiin gue sih?           </p>
<p>Kira-kira itulah masalah-masalah utama yang ada pada kita, wanita, disamping masalah-masalah lain seperti tuntutan untuk bisa masak, mencuci baju, membersihkan rumah, nyeri haid, alergi-alergi lainnya, tuntutan sopan santun yang harus dimiliki seorang wanita, ancaman kriminalitas, dll. </p>
<p>Tidak jarang karena masalah-masalah dan tuntutan-tuntutan ini kita menjadi tidur tidak teratur karena memikirkan omongan-omongan orang, jerawat semakin banyak, haid tidak teratur, penurunan prestasi akademis di sekolah, rendah diri, menjauh dari keluarga terutama dengan ibu, sulit konsentrasi pada tugas atau pekerjaan, menghindari lawan jenis atau justru sangat agresif terhadap lawan jenis yang penting punya pacar, dsb, mengapa bisa demikian akibatnya? Satu jawaban yaitu STRESS. Stress adalah keadaan psikologis dimana tidak adanya keseimbangan atau kesamaan antara persepsi individu terhadap tuntutan terhadap dirinya dengan kemampuannya menjalankan tuntutan tersebut (Cox, 1978).  </p>
<p>“Gue sayang banget sama cowok gue tapi nyokap gue ga suka sama dia karena dia berasal dari suku bangsa yang nyokap gue enggak suka. Nyokap gue mau gue dapet yang udah kerja dan udah mapan, bersuku bangsa yang sama dengan gue..”.”dia udah 5 tahun jalan sama gue, gue percaya kok dia bisa bahagiain gue…gue sayang sama dia”<br />
Sebenarnya, dari mana saja sih sumber stress itu?<br />
Dalam kasus kita, sumber stres dapat dibedakan ke dalam 2 aspek yaitu <em>personality</em> (diri sendiri) dan psikososial (hubungan dengan lingkungan sosial).</p>
<p><em>Personality</em> berhubungan erat dengan bagaimana kamu memandang diri kamu Misalnya :  saya jelek, saya bukan wanita tinggi, putih, langsing, berambut hitam panjang, saya tidak menarik, pasti tidak akan ada laki-laki yang suka kepada saya. Karena persepsi diri kamu yang sudah negatif maka berakibat pada tingkah laku kamu yang tidak menghargai diri kamu sendiri.</p>
<p>Psikososial adalah stres yang bersumber dari hasil interaksi kamu dengan lingkungan sosial kamu. Misalnya frustrasi karena kamu merasa didiskriminasikan oleh lingkungan karena kamu tidak cantik, tinggi, putih, dan berambut hitam panjang atau kamu tidak bisa beradaptasi dengan tuntutan-tuntutan yang seketika itu datang kepada kamu saat ulang tahun kamu yang ke 21. semua keinginan orang kamu penuhi baik dari keluarga, teman, lingkungan kuliah sehingga kamu merasa overload (tuntutan yang tidak ada habisnya).</p>
<p>Stres psikososial bisa juga terjadi pada kamu yang kesepian karena walaupun ada mama dan teman-teman lain tapi kerinduan untuk memiliki pacar untuk dipeluk, dicium, diandalkan tidak kunjung datang.</p>
<p>Jadi, tidak heran donk kalo kamu jadi menjauh dari teman-teman kamu hanya karena mereka sudah mempunyai kekasih karena disadari atau tidak persepsi diri kamu yang negatif menimbulkan keyakinan bahwa kamu didiskriminasikan oleh lingkungan kamu, seolah-olah lingkungan mengatakan “yang tidak mempunyai pacar tidak diterima di lingkungan ini karena 21 tahun seharusnya udah punya pacar!!!”. Gals, ini adalah sumber stres kamu.</p>
<p>Apa yang harus kita lakukan ?<br />
Mari kita tinggalkan dulu masalah stres ini terlebih dahulu dan kembali ke permasalahan pokok kita.<br />
Apa yang terpikirkan oleh kamu bila kamu mendengar kata “wanita”? makhluk lemah kah? Seorang pesolek kah? Tinggi? Putih? Ramping?&#8230;.terlepas dari keadaan fisiknya, mungkin beberapa dari kita akan tertuju pada tokoh-tokoh besar seperti R.A Kartini, Putri Diana, Florence Knightingale, Oprah Whinfrey, atau mungkin ibu kita sendiri. apakah salah satu dari mereka adalah tokoh kebanggaanmu? Apa tujuan hidup mereka? siapa mereka? apa saja tuntutan-tuntutan lingkungan bagi hidup mereka? bagaimana mereka menghadapi tuntutan-tuntutan tersebut? Florence Knightingale, atau wanita pembawa lampu yang oleh Ratu Victoria dianugrahi bros bertuliskan “dilindungilah orang yang baik hati” merupakan satu dari 2 orang yang sangat penting dalam mempengaruhi sejarah Inggris. Pada awalnya Flo tidak diijinkan oleh kedua orang tuanya menjadi perawat karena pada masa itu perawat didiskriminasikan sebagai profesi yang identik dengan pelacur, pecandu minuman keras, dan orang terkucil lainnya padahal Flo adalah anak dari keluarga yang mempunyai status tinggi.</p>
<p>Oprah Whinfrey, pernah mengalami seksual abuse pada waktu umurnya masih belia. Keluarganya miskin, termasuk kaum yang disingkirkan karena warna kulit tetapi sekarang semua orang mengenalnya. Wanita terkaya di dunia dengan acara talk show terlaris dan cukup berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Amerika.</p>
<p>Mengapa kita perlu mengenal tokoh-tokoh ini?<br />
Gals, dimana pun kita, siapa pun kita, dan sampai kapanpun ternyata tuntutan-tuntutan itu akan selalu ada, tapi lihat bagaimana tokoh-tokoh ini mengahadapi tuntutan-tuntutan dalam hidup mereka.</p>
<p>Jadi, apa yang harus kita lakukan?</p>
<ol>
<li>Kenali diri kamu<br />
Ambil selembar kertas berwarna A4 dan tulislah hal-hal positif tentang diri kamu. Stop menjelek-jelekan dirimu sendiri..</li>
<li>Tujuan hidupmu<br />
Apa sih tujuan hidup kamu? Apa yang ingin kamu capai dalam hidupmu?  Tulis dalam selembar kertas cita-cita kamu langkah demi langkah, kemudian tulis apa saja kelebihan kamu, dan apa saja yang menjadi kekurangan kamu baik eksternal maupun internal. Jabarkan sedetail mungkin dan coba ulas satu-satu bagaimana cara mengatasinya.</li>
<li>Hargai dirimu</li>
<li>Atur jadwal mingguan dimana satu hari kamu sediakan untuk memanjakan dirimu sendiri misalnya cream bath pada hari sabtu, tabungan selama seminggu kamu gunakan untuk belanja keperluan dirimu sendiri.</li>
<li>Setiap pagi pasanglah lagu kesukaanmu yang akan membuatmu semangat atau tempellah foto atau poster tokoh panutan kamu yang bisa membuat kamu semangat.</li>
<li>Bila kamu sudah dapat menjalin hubungan yang baik dengan dirimu sendiri maka kamu tidak perlu lagi takut menghadapi usiamu yang 21 tahun dan tuntutan-tuntutannya. Keluarga adalah aset yang paling berharga bagi kita. Ingat! Apapun yang mereka lakukan mereka mau itu adalah yang paling baik bagi kita, jadi, tidak salah jika tuntutannya banyak.<br />
Apa yang harus kita perbuat terhadap tuntutan eksternal itu?</li>
<li>Kontrol<br />
Kamu yang memegang kontrol di sini. Jangan pernah ada seseorang yang menjelek-jelekan kamu atau mengatur hidup kamu tanpa seijin kamu. Kamu yang menentukan apa yang mau kamu dengar dan apa yang tidak mau kamu dengar.</li>
<li><em>Challenge<br />
</em>Yakinkan bahwa segala perubahan yang terjadi adalah tantangan bagi kamu untuk semakin maju.</li>
<li>Komitmen<br />
Kembalilah pada apa yang sebenarnya kamu ingin lakukan terhadap dirimu sendiri. fokus pada komitmen hidupmu.</li>
</ol>
<p>“Maaf, kawin muda kayaknya bukan tujuan hidup gue deh. Gue masih harus menyelesaikan kuliah gue dan gue mau kerja dan membahagiakan mama dan papa gue dulu”<br />
“Rencananya gue mau nyelesaiin S1 gue waktu umur gue 22, kuliah S2 sampai umur 24, gue masih mau kerja dan berkeliling dunia sampai 28 tahun dan akhirnya gue nikah”<br />
Tidak ada salahnya jika kamu mau memanjakan hidup kamu atau keluarga atau egois sedikitlah dengan tidak nikah dulu dan memikirkan orang lain.</p>
<p>Ada 7 hal yang harus dilakukan oleh wanita khususnya supaya hidupnya berarti menurut LeAnn Weiss dan Susan Duke dalam buku mereka yang berjudul heartlifters for Women yaitu Komitmen, Prioritas, Memberi, Kehormatan, Kesederhanaan, Kepercayaan Diri, dan Iman. So Gals, bersyukurlah setiap kita bangun pagi sebagai bentuk Iman mu kepada yang Maha Kuasa, hargai diri kita sendiri dengan komitmen, prioritas, kehormatan , kesederhanaan, kepercayaan diri, dan hargai orang lain.</p>
<p><em>“Kita terlahir dengan segala keunikan kita, dengan segala kekurangan kita, kita menjadi semakin maju, dengan segala kelebihan kita, kita saling membantu.<br />
“Kamu adalah dengan siapa kamu bergaul.”</em></p>
<p><em>By Anna Oktavina<br />
</em></p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://all-about-stress.com/2008/04/13/i-am-21-years-old%e2%80%a6i%e2%80%99m-afraid/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Segala sesuatu tentang stres</title>
		<link>http://all-about-stress.com/2008/03/30/segala-sesuatu-tentang-stres/</link>
		<comments>http://all-about-stress.com/2008/03/30/segala-sesuatu-tentang-stres/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 02:53:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesian Articles]]></category>

		<category><![CDATA[coping with stress]]></category>

		<category><![CDATA[stres]]></category>

		<category><![CDATA[sumber stres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://all-about-stress.com/2008/03/30/segala-sesuatu-tentang-stres/</guid>
		<description><![CDATA[Apakah  Anda mempunyai jadwal yang padat? Seolah-olah hidup penuh dengan deadline. Pasti Anda akan berkata, “Aduh, gua stres! Deadline numpuk! Kerjaan numpuk!”
Ini hanya sekedar ilustrasi dan gambaran singkat untuk mengantar Anda memahami apa itu stres, bagaimana reaksi stres, sumber stres, dan coping strategies. Mari mulai membaca! Selanjutnya akan dibahas mengenai pengertian stres…. 
Apa itu stres?
Terkadang Anda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/family-stress.jpg" title="family"></a><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/family-stress.jpg" title="Stres Keluarga"><img src="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/family-stress.thumbnail.jpg" alt="Stres Keluarga" /></a>Apakah  Anda mempunyai jadwal yang padat? Seolah-olah hidup penuh dengan deadline. Pasti Anda akan berkata, “<em>Aduh, gua stres! Deadline numpuk! Kerjaan numpuk!”</em><br />
Ini hanya sekedar ilustrasi dan gambaran singkat untuk mengantar Anda memahami apa itu stres, bagaimana reaksi stres, sumber stres, dan coping strategies. Mari mulai membaca! Selanjutnya akan dibahas mengenai pengertian stres…. </p>
<p><strong>Apa itu stres?<br />
</strong>Terkadang Anda bisa bilang kalau kita stres tapi sebenarnya apakah kita tahu dengan pasti apa itu stres? Stres adalah suatu reaksi dari tubuh (respon) terhadap lingkungan yang dapat memproteksi diri kita dan merupakan sebuah <em>defense mechanism</em> alami yang membuat kita tetap hidup. Stres tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Bahkan ketika Anda  masih dalam kandungan, Anda sudah merasakan stres karena ketidaknyamanan ketika akan lahir ke dunia. Ketika Anda lahir ke dunia, menjadi remaja, bahkan sampai kita tua, kita tidak lepas dari stres.  </p>
<p>Stres dalam kadar ringan dapat membuat Anda berpikir dan berusaha dalam menjawab tantangan hidup sehari-hari. Stres dalam kadar ringan juga dapat menjadi motivasi untuk menjadi seseorang  yang  lebih baik dan stress dapat membuat hidup menjadi lebih penuh ‘warna’. Namun stres yang berlebihan dan berkepanjangan akan menimbulkan gangguan pada kesehatan tubuh kita.</p>
<p>Selanjutnya akan dibahas mengenai stres positif (<em>Eustress</em>) dan stres negatif <em>(Distress</em>). Stres bersifat positif bila Anda dapat menghadapinya dan meningkatkan kemampuan kita untuk menghadapinya. Stres positif disebut dengan e<em>ustress</em>. Sedangkan stres bersifat negatif bila Anda tidak memiliki kemampuan cukup untuk menghadapinya, timbul gangguan kesehatan, timbul ketakutan, kecemasan, dan keinginan untuk ‘melarikan diri’. Stres negatif disebut dengan d<em>istress.</em>           <br />
Tetaplah membaca karena Anda akan mengetahui lebih banyak mengenai stres…</p>
<p><strong>Reaksi Stres</strong><br />
Apakah Anda merasa gugup apabila harus presentasi perdana di depan para atasan? Apakah Anda merasa lidah kelu, tangan dingin, jantung deg-deg an saat akan menghadapi interview kerja?</p>
<p>Itu semua merupakan reaksi tubuh Anda terhadap stres. Sebenarnya masih banyak reaksi diri Anda terhadap stres. Reaksi  terhadap stres dibagi menjadi empat bagian.    Pertama, adalah reaksi fisik. Reaksi ini adalah reaksi yang paling terlihat. Contohnya adalah sakit kepala (seperti pada gambar), jatung deg-deg an, lidah menjadi kelu, kehilangan nafsu makan, insomnia, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Kedua adalah reaksi emosi. Reaksi ini contohnya marah-marah, cemas, mudah tersinggung, menjadi pesimis, dan masih banyak lagi lainnya. Reaksi ketiga adalah reaksi kognitif, contohnya adalah berpikir negative, sulit konsentrasi, sulit berpikir, dan masih banyak lagi. Reaksi keempat adalah reaksi tingkah laku, contohnya adalah menarik diri dari lingkungan (withdrawal), tidur berlebihan, jadi pendiam, jadi jutek, dan masih banyak lagi. </p>
<p><strong>Sumber Stres</strong><br />
Apakah Anda tahu bahwa interaksi dengan lingkungan, pekerjaan, kepribadian dapat menjadi sumber stres? Sebenarnya masih banyak lagi sumber stres lainnya, karena itu tetaplah membaca.. </p>
<p>Sumber stres disebut juga stressor. Sumber stres sebenarnya ada banyak, <em>bioecological stress</em>, kognitif, kepribadian, psikososial, stres kerja, dan stres keluarga.</p>
<p>Pertama yang akan dibahas adalah stres kerja.<br />
Sumber stres yang akan dibahas adalah stres kerja. Stres kerja punya berbagai macam penyebab,paling sering adalah masalah gaji yang tidak sesuai dengan profesi kerja. Masalah lainnya adalah masalah jam kerja, peraturan yang terlalu mengekang sehingga Anda tidak dapat menkspresikan diri Anda, lokasi kerja yang jauh dari rumah, kerjaan yang tidak lagi menantang, resiko pekerjaan yang tinggi, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Hampir setiap hari berisi deadline kerja? Ya, deadline kerja yang terlalu berlebihan dapat membuat Anda overload dan stres. Sebagai tambahan mengenai stres kerja, menurut Philip L. Rice seseorang dapat dikatakan stres bila:</p>
<ul>
<li>Urusan stres yang dialami melibatkan juga pihak organisasi atau perusahaan tempat Anda bekerja. Namun penyebabnya tidak hanya di dalam perusahaan, karena masalah rumah tangga yang terbawa ke pekerjaan dan masalah pekerjaan yang terbawa ke rumah dapat juga menjadi penyebab stres kerja.</li>
<li>Mengakibatkan dampak negatif bagi perusahaan dan juga Anda. Oleh karenanya diperlukan kerja sama antara kedua belah pihak untuk menyelesaikan persoalan stres tersebut.</li>
</ul>
<p>Kemudian  yang akan dibahas  adalah <em>bioecological stress</em> (interaksi manusia dengan lingkungan). Dibagi menjadi lima penyebab: <em>time and body rhythms, eating and drinking habits, noise pollution, climate &amp;altitude, drugs</em>. Paling banyak dialami oleh kita adalah<em> noise pollution</em> (kemacetan yang setiap hari terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggal kita juga dapat membuat kita stres) dan<em> eating and drinking</em> <em>habits</em>.  Kita selalu ‘tutup mata’ dan pura-pura tidak tahu kalau jenis makanan dan minuman ini tidak baik bagi tubuh kita dan dapat menjadi sumber stres.</p>
<p>Sumber stres berikutnya adalah berasal dari kognitif, yaitu bagaimana kita sebagai individu menginterpretasikan peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Misalnya ketika seseorang gagal di suatu proyek,  akan timbulm reaksi yang berbeda dari dua orang berbeda. Orang (X) mungkin bereaksi negatif, dia akan menganggap dirinya memang tidak memiliki kemampuan sehingga tidak bisa menyelesaikan proyek itu dan dia akan terus-terusan menyesal hingga dia menjadi stres. Namun orang (Y) mungkin saja akan bereaksi sebaliknya.</p>
<p>Sumber stres lainnya berasal dari kepribadian seseorang. Apakah Anda seorang yang merasa bahwa kerjaan Anda akan lebih baik disbanding teman Anda, perfeksionis, mudah marah, dan agresif? Kalau ternyata jawabannya ‘ya’ maka Anda adalah seorang yang berkepribadian tipe A. Itu berarti Anda harus lebih berhati-hati dan Anda harus belajar merilekskan diri karena orang-orang bertipe A ini adalah orang yang mudah stres dibandingkan orang bertipe B yang lebih <em>easy going</em>.</p>
<p>Sumber stres selanjutnya adalah psikososial stres. Terdapat lima penyebab yang beraitan dengan stres, yaitu perubahan, <em>overload</em>, frustrasi, <em>boredom and loneliness</em>, dan keterkaitan antara empat penyebab yang telah disebutkan. Penyebab yang paling seirng dihadapi Anda adalah perubahan, overload, dan frustrasi. Perubahan, contohnya adalah perubahan status dari <em>single</em> menjadi <em>couple</em>, perubahan lingkungan tempat tinggal, dan masih banyak lagi. Cara menghadapi perubahan yang terjadi adalah mengkontrolnya, menganggap perubahan adalah sesatu yang normal dan dapat membuat Anda menjadi lebih baik, juga berkomitmen bahwa perubahan itu adalah salah satu pengalaman hidup yang berharga. <em>Overload </em>sama dengan <em>overstimulation</em>, dimana stimulus yang ada melebihi kapasitas diri Anda.</p>
<p>Overload yang paling sering terjadi adalah <em>urban overload</em> seperti kemacetan yang terjadi di Jakarta. Selain itu, occupational overload juga sangat sering terjadi. Contohnya adalah ketika Anda ingin meningkatkan produktivitas kerja Anda, karena itu Anda bekerja lebih dari 24 jam sehari sudah jelas waktu kerja ini melebihi kapasitas Anda dan jelas membuat Anda overload.</p>
<p>Selanjutnya akan dibahas mengenai frustrasi. Apakah Anda pernah mengalami frustrasi? Frustrasi dapat terjadi ketika Anda gagal memperoleh tujuan Anda. Ada empat faktor yang dapat membuat Anda frustrasi, yaitu <em>overcrowding</em>, diskriminasi, faktor sosioekonomi, dan birokrasi.</p>
<p>Sumber stres yang terakhir adalah stres keluarga. Contohnya adalah bila seorang anak hidup selalu diwarnai pertengkaran orang tuanya maka ia akan dengan mudah mengalami stres. Atau ketika istri atau suami Anda sering melakukan kekerasan maka Anda sebagai pasangannya pasti akan dengan mudahnya menjadi stres.</p>
<p><strong>Cara Menghadapi Stres</strong> <br />
Adapun cara-cara menghadapi stres adalah:</p>
<ol>
<li>Tertawa (ini merupakan cara yang paling ampuh dan mujarab).</li>
<li>Rekreas.i</li>
<li>Relaksasi (yoga, meditasi).</li>
<li>Berpikir positif selalu karena dengan ini akan membuat Anda menjadi lebih baik.</li>
<li>Olahraga</li>
<li>Tidur</li>
<li>Membuat rencana dan mempercayai bahwa rencana itu akan terlaksana dengan baik.</li>
<li>Curhat pada orang lain.</li>
<li>Membuat keputusan dengan hati-hati dan melihat konsekuensinya.</li>
<li>Makan- makanan yang bergizi dan minum air putih.</li>
</ol>
<p>Masih banyak lagi cara untuk menghadapi stres. Kalau Anda menghadapi stres, jangan ‘melarikan’ diri, hadapilah stres itu dan tingkatkan kemampuan Anda dalam menghadapi dan menyelesaikan stres…</p>
<p>Satu hal yang perlu Anda ingat bahwa stres tidak dapat dihidari karena setiap manusia pasti memiliki stres. Namun yang perlu Anda lakukan adalah mengkontrol stres tersebut hingga dapat menjadi optimal… Semoga dengan membaca tulisan ini, hidup Anda akan menjadi lebih baik…<em> </em></p>
<p><em>By Erica</em></p>
<p><strong>Sumber Pustaka</strong>:<br />
Giordano, Daniel A.dkk. 2005. <em>Controlling Stress and Tension</em>. San Fransisco: Pearson Education, Inc.</p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://all-about-stress.com/2008/03/30/segala-sesuatu-tentang-stres/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cope with your stress</title>
		<link>http://all-about-stress.com/2008/03/30/cope-with-your-stress/</link>
		<comments>http://all-about-stress.com/2008/03/30/cope-with-your-stress/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 02:32:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesian Articles]]></category>

		<category><![CDATA[cope with stress]]></category>

		<category><![CDATA[humor for stress]]></category>

		<category><![CDATA[mengenali stres dan mengatsi stres]]></category>

		<category><![CDATA[stress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://all-about-stress.com/2008/03/30/cope-with-your-stress/</guid>
		<description><![CDATA[Stres,satu kata yang familiar bagi Anda bukan? Apakah anda sering mengalami stres? Stres sepertinya pernah dialami oleh siapapun. Entah yang tua ataupun yang muda, entah yang miskin atau yang kaya. Bahkan seorang bayi kecil yang ingin keluar dari rahim ibunya pun mengalami stres untuk pertama kali sebelum ia bertemu dengan dunia. Ia berjuang keras untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/laughing.jpg" title="laughing.jpg"></a><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/laughing.jpg" title="Tertawa Mengatasi Stres"><img src="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/laughing.thumbnail.jpg" alt="Tertawa Mengatasi Stres" /></a>Stres,satu kata yang familiar bagi Anda bukan? Apakah anda sering mengalami stres? Stres sepertinya pernah dialami oleh siapapun. Entah yang tua ataupun yang muda, entah yang miskin atau yang kaya. Bahkan seorang bayi kecil yang ingin keluar dari rahim ibunya pun mengalami stres untuk pertama kali sebelum ia bertemu dengan dunia. Ia berjuang keras untuk dapat keluar dari rahim ibunya. Lansia juga dapat mengalami stres. Seorang nenek dapat mengalami stres karena ajalnya yang semakin mendekat. Seorang pengusaha muda dapat mengalami stres jika melihat indeks saham yang berubah-ubah sepanjang waktu. Remaja wanita juga mengalami stres jika datang bulan. Hal ini membuktikan bahwa stres memang sudah menjadi bagian hidup dari manusia. Stres tidak dapat Anda dihindari. Oleh karena itu, Anda-lah yang seharusnya mengkontrol stres yang datang di kehidupan Anda.</p>
<p><strong>Apakah Stres Itu?<br />
</strong>Stres dapat berarti suatu hal yang menekan kita. Stres juga dapat diartikan sebagai reaksi tubuh kepada lingkungan melalui meningkatnya tekanan internal tubuh dan tegangan antara otot tubuh. Stres yang terjadi dalam durasi yang lama dapat mendatangkan penyakit dalam tubuh. Selain penyakit, stres juga dapat mencuri kebahagiaan yang Anda miliki dalam hidup ini. Apabila Anda menjalani hidup dengan ketidakbahagiaan, tentunya hidup akan terasa lebih sulit.</p>
<p>Stres seringkali dikenal sebagai sesuatu yang mesti dihindari, karena membuat seseorang merasa tidak nyaman. Stres seringkali dianggap mendatangkan hal yang bersifat negatif. Demikianlah, arti stres bagi kebanyakan orang. Akan tetapi, jika Anda melihat lebih dalam lagi, sebenarnya stres tidaklah selalu bersifat negatif bagi hidup Anda. Stres bersifat negatif jika menyebabkan sistem tubuh Anda terganggu, melebihi kemampuan Anda untuk menangani stres itu sendiri, serta menimbulkan masalah pada tubuh Anda. Stres yang negatif disebut distress (Girdano, 2005). <em>Eustress</em> atau stres yang positif adalah stres yang menyebabkan Anda beradaptasi dan meningkatkan kemampuan adaptasi Anda. <em>Eustress</em> juga dapat memperingati Anda jika kemampuan Anda dalam mengangani stres sudah tidak mencukupi sehingga Anda dapat meningkatkan kemampuan coping Anda. Intinya, <em>eustress</em> menantang Anda untuk hidup lebih baik lagi.</p>
<p>Stres yang Anda alami dalam kehidupan, baik itu stres positif atau negatif, tidak dapat dihindari. Yang dapat anda lakukan adalah mengenali respon stres anda, mencari sumber stres (stressor) anda, melakukan <em>coping strategies</em> (menangani stres), serta mengulanginya dalam kehidupan anda sehari-hari. Dengan melakukan keempat tindakan tersebut, maka anda dapat mengatur stres Anda dengan jauh lebih baik serta menjalani hidup dengan lebih bahagia.</p>
<p><strong>Ketika Stres Mendatangi Anda</strong><br />
Pernahkah Anda merasa badan Anda tiba-tiba berkeringat dingin, lidah Anda menjadi kelu, serta jantung Anda berdebar-debar saat Anda melakukan presentasi di depan banyak orang. Mungkin ketiga tanda tersebut merupakan stres yang Anda alami. Untuk dapat menangani stres secara lebih baik, Anda perlu mengenali reaksi Anda terhadap stres, sehingga Anda dapat memilih coping strategies mana yang dapat Anda lakukan.</p>
<p>Reaksi diri terhadap stres dapat dilihat dari empat tanda, yaitu fisik, kognitif, emosi, dan tingkah laku. Reaksi stres yang dapat dilihat melalui fisik adalah gagap dalam berbicara (sulit untuk bicara), detak jantung meningkat, kepala pusing, badan gemetaran, muntah-muntah, kesulitan bernafas, kelelahan yang berlebihan, serta kesulitan tidur.<br />
Secara kognitif, reaksi stres yang muncul adalah berkurangnya konsentrasi, mudah lupa, munculnya pandangan yang negatif terhadap diri sendiri, kreativitas menurun, serta hilangnya kontrol pada diri sendiri.<br />
Sedangkan secara emosi, reaksi stres yang muncul adalah mudah cemas, cepat tersinggung, mudah marah, depresi, penatikan diri pada lingkungan sosial, mudah menangis, menurunnya rasa percaya diri, serta munculnya pandangan negatif pada diri dan orang lain.</p>
<p>Dilihat dari tingkah laku, reaksi stres yang terlihat adalah tidak sabar, menjadi ceroboh, nervous laughter, menarik diri dari lingkungan sekitar, merokok, penurunan dan peningkatan nafsu makan, pemakaian obat-obatan terlarang, minum minuman beralkohol,  serta munculnya tingkah laku yang bersifat agresif seperti mengemudikan mobil dengan kecepatan sangat tinggi.</p>
<p><strong>Penyebab Stres Anda<br />
</strong>Penyebab stres (stressor) anda dapat datang dari sudut kehidupan manapun. Kejadian  kecil dalam hidup anda pun dapat menjadi sumber stres yang membuat hidup anda hancur. Peran anda disini adalah bagaimana anda menyusun alur berpikir dan emosi anda dalam menghadapi segala sesuatu hal yang muncul dalam kehidupan anda. Kejadian yang muncul dalam kehidupan anda sebenarnya bersifat netral, anda-lah yang memegang peranan untuk mengubahnya menjadi hal yang bersifat positif atau negatif. Namun, marilah sekarang kita mengenali aspek kehidupan apa saja yang dapat menimbulkan stres dalam kehidupan anda.</p>
<p>Seperti dikemukakan pada paragraf sebelumnya, stressor dapat datang dari sudut manapun. Stres dapat muncul dari berbagai aspek seperti bioecological (lingkungan), pekerjaan, serta psikososial. Dari aspek bioecological, sumber stres dibagi menjadi empat bagian, yaitu time and body rhythms, <em>eating and drinking habits, noise polution, dan climate and altitude. </em></p>
<p>Pertama, stres akibat <em>time &amp; body rhythms</em> biasanya terjadi akibat jet lag. Bagi anda yang sering bepergian ke luar negeri yang memiliki jeda waktu yang berbeda dengan Indonesia, hal ini akan menjadi sumber stres sendiri. Biasanya setelah kelelahan akibat naik pesawat selama berjam-jam, anda harus menyesuaikan diri pada lingkungan serta perbedaan waktu yang membuat stres. Bagi para wanita, hormonal time juga dapat membuat stres. Misalnya pada saat sebelum dan saat menstruasi, serta saat menghadapi menopause. Wanita menjadi lebih sensitif serta mudah tersinggung. </p>
<p>Kedua, stres akibat <em>eating &amp; drinking habits</em>. Ada sebagian orang yang mengalami malnutrisi (kekurangan gizi), tetapi ada juga beberapa orang yang mengalami overnutrisi. Hal lain yang dapat menjadi sumber stres adalah terlalu banyak mengkonsumsi junk food, kopi, teh, drugs, serta alkohol. Pengkonsumsian makanan yang berbahaya ini kadang membuat stres bagi banyak orang karena dapat menimbulkan penyakit pada diri mereka.</p>
<p>Ketiga, stres akibat <em>noise polution</em>. Gangguan suara seringkali terjadi pada anda yang tinggal di kota-kota besar. Disana aktivitas perkantoran, perindustrian serta kemacetan lalu lintas seringkali menimbulkan suara yang bising. Suara ini seringkali mengganggu konsentrasi kita dalam mengerjakan sesuatu dan membuat stres bagi kebanyakan orang. Bagi orang-orang yang menyukai suasana tenang, noise polution dapat menjadi salah satu penyebab stres utama dalam kehidupannya.</p>
<p>Terakhir, stres akibat <em>climate &amp; altitude</em>. Stres in terjadi biasanya karena adanya perubahan iklim. Misalnya bagi anda yang senang mendaki gunung, seringkali pergantian cuaca yang ekstrim dapat menimbulkan hyperthermia. Bagi anda yang senang bepergian ke negara-negara bagian Barat, seringkali suhu udara yang dingin membuat kita tidak nyaman akan diri kita sendiri.</p>
<p>Selain dari aspek bioekologi, stressor dapat muncul dari pekerjaan. Seseorang dapat mengalami stres pada pekerjaan yang berasal dari organisasi itu sendiri, lingkungan pekerjaan, faktor biologis pada lingkungan pekerjaan, serta kelelahan pribadi. Anda tentu dapat mengalami stres jika memperoleh gaji yang tidak sesuai dengan kemampuan anda, entah gaji anda kecil atau besar. Selain itu, jam kerja yang rutin juga dapat menimbulkan kebosanan bagi beberapa orang sehingga menimbulkan stres jika tidak diatasi dengan baik.</p>
<p>Stres juga dapat bersumber dari aspek psikososial. Perubahan yang terjadi dalam kehidupan kita, dapat menjadi salah satu sumber stres. Misalnya ketika kita masuk kuliah pada hari yang pertama, pindah rumah, menikah, melahirkan seorang anak, dsb, merupakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup kita dan dapat mengakibatkan stres.</p>
<p>Remaja juga memiliki sumber stres mereka sendiri. Keadaan keluarga, tuntutan dari lingkungan sekitar, persahabatan, masalah self-esteem, sampai masalah percintaan dapat menimbulkan stres di kalangan remaja.</p>
<p><strong><em>Coping with Your Stress<br />
</em></strong>Setelah anda mengenal reaksi stres pada diri anda serta sumber stres anda maka langkah selanjutnya adalah mengatasi stres itu sendiri. Stres tidak dapat kita hindari, yang dapat kita lakukan adalah mengenali reaksi stres kita, sumber stres tersebut, serta mengoptimalkan stres anda. Ini adalah langkah terakhir untuk mengatasi stres sekaligus merupakan langkah terpenting.</p>
<p>Secara umum, terdapat dua cara untuk mengatasi stres anda, yaitu <em>problem focus </em>dan<em> emotion focus</em>. Problem focus, adalah cara mengatasi stres dengan memfokuskan diri pada masalah atau sumber stres anda. Cara ini dapat anda lakukan jika masalah yang anda alami bersifat controllable. Contohnya, anda mengalami kesulitan dalam mengikuti suatu mata kuliah tertentu. Anda juga khawatir apabila mata kuliah ini akan menurunkan indeks prestasi anda. Maka hal yang dapat anda lakukan (berdasarkan problem focus) adalah tidak mengikuti dan membatalkan mata kuliah tersebut.</p>
<p>Cara yang kedua adalah <em>emotion focus</em>, dimana anda mengatasi stres dengan cara memfokuskan diri dengan emosi yang anda alami. Cara ini biasanya dilakukan ketika anda menghadapi masalah yang bersifat uncontrollable (tidak dapat anda kontrol). Contohnya ketika anda merasa stres akibat kehilangan saudara karena bencana tsunami, hal yang dapat anda lakukan misalnya berdoa agar diberikan kekuatan oleh Tuhan dalam menghadapi masalah ini. Kedua cara tersebut, problem atau emotion focus, sebenarnya tidak ada yang lebih baik. Cara tersebut dapat anda lakukan tergantung pada masalah apa yang anda alami.</p>
<p><em><strong>Humor, A Way to Cope with Stress<br />
</strong></em>Dalam mengatasi stres, anda dapat memiliki berbagai pilihan aktivitas. Anda dapat mengambil cuti beberapa saat dan menghabiskan liburan bersama keluarga. Anda dapat melakukan meditasi atau yoga. Anda dapat berolahraga atau melakukan hobi anda yang lain.</p>
<p>Salah satu cara terbaru yang ditemukan oleh para ahli dalam mengatasi stres adalah dengan tertawa. Menurut penelitian yang dilakukan oleh para ahli, orang dewasa lebih sedikit tertawa dibandingkan dengan anak-anak. Anak-anak dapat tertawa sebanyak 400 kali dalam satu hari, sedangkan orang dewasa hanya 15 kali. Mengapa kita jarang sekali tertawa padahal tertawa bukanlah suatu hal yang sulit?<br />
Orang dewasa jarang tertawa mungkin disebabkan karena masalah yang dihadapi semakin banyak, sehingga menimbulkan stres. Selain itu, media massa yang ada lebih banyak menyediakan berita mengenai hal-hal yang buruk. Kematian, pembunuhan, perceraian, sepertinya menjadi makanan kita sehari-hari. Tak heran, kita lebih sedikit tertawa dibandingkan dengan anak-anak. Oleh karena itu, marilah kita lebih mengenal keuntungan yang muncul jika anda tertawa.</p>
<p>Ketika anda tertawa, tidak saja membuat anda terlihat lebih segar tetapi juga berpengaruh pada sistem tubuh anda. Ketika anda tertawa, otot tubuh anda menjadi lebih santai. Hal ini tentu saja memiliki efek yang baik bagi anda yang sedang mengalami stres. Selain itu, dengan tertawa tubuh anda dapat mengurangi hormon stres. Perlu anda ketahui bahwa  tubuh anda mengeluarkan hormon neuroendocrine ketika anda sedang stres. Sebaliknya ketika anda tertawa, tubuh anda mengurangi hormon tersebut sehingga tubuh anda akan terasa lebih rileks.</p>
<p>Selain itu, ketika anda sedang stres, sistem imun tubuh anda menjadi lemah. Anda akan lebih mudah terkena penyakit, yang justru kadang menimbulkan stres baru. Oleh karena itu, banyaklah tertawa mulai saat ini. Keuntungan lain yang anda peroleh dengan tertawa adalah anda dapat meningkatkan hubungan anda dengan orang lain. Orang lain tentu akan lebih menyukai berhubungan dengan orang yang tertawa daripada orang yang selalu menampilkan wajah sedih. Oleh karena itu, marilah kita banyak tertawa mulai saat ini. Kesehatan anda akan membaik, hubungan anda dengan orang lain juga meningkat, dan satu hal yang penting stres anda dapat menurun. So, remember <em>to have a lot laugh today!</em></p>
<p><em>By Hannakhe Putri</em></p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong><br />
Girdano, D.A. (2005). <em>Controlling Stress and Tension</em> (7th ed). San Fransisco: Pearson Education, Inc.</p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://all-about-stress.com/2008/03/30/cope-with-your-stress/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>“Stres Pada Fresh Graduate yang Belum Mendapatkan Pekerjaan”</title>
		<link>http://all-about-stress.com/2008/03/23/%e2%80%9cstres-pada-fresh-graduate-yang-belum-mendapatkan-pekerjaan%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://all-about-stress.com/2008/03/23/%e2%80%9cstres-pada-fresh-graduate-yang-belum-mendapatkan-pekerjaan%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 02:09:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesian Articles]]></category>

		<category><![CDATA[]]></category>

		<category><![CDATA[freshgraduate]]></category>

		<category><![CDATA[stress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://all-about-stress.com/2008/03/23/%e2%80%9cstres-pada-fresh-graduate-yang-belum-mendapatkan-pekerjaan%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Pada kesempatan kali ini kita akan membicarakan stres yang terjadi pada para fresh graduate yang belum mendapatkan pekerjaan bahkan sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Tetapi sebelum itu, akan lebih baik jika kita berkenalan terlebih dahulu dengan apa yang dimaksud dengan stres,  apa saja reaksi dan gejalanya, sumber-sumber yang dapat menimbulkan stres,sehingga strategi yang dapat kita gunakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/freshgraduates.jpg" title="Freshgraduates"></a><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/freshgraduates.jpg" title="Freshgraduates"></a><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/freshgraduates.jpg" title="Freshgraduates"></a><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/freshgraduates.jpg" title="Stres Pada Freshgraduate"><img src="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/freshgraduates.thumbnail.jpg" alt="Stres Pada Freshgraduate" /></a>Pada kesempatan kali ini kita akan membicarakan stres yang terjadi pada para <em>fresh graduate</em> yang belum mendapatkan pekerjaan bahkan sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Tetapi sebelum itu, akan lebih baik jika kita berkenalan terlebih dahulu dengan apa yang dimaksud dengan stres,  apa saja reaksi dan gejalanya, sumber-sumber yang dapat menimbulkan stres,sehingga strategi yang dapat kita gunakan untuk menangani stress</p>
<p><strong>Stres…?</strong></p>
<p>Stres, kacau, <em>makan ati,</em> merupakan hal yang sangat sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut juga sangat sering kita dengar sebagai  gambaran perasaan dari pengalaman pribadi seseorang yang mengekspresikan keadaan tertekan atau terancam. Tekanan dapat datang dari berbagai arah dengan cara, waktu dan keadaan yang berbeda-beda pada setiap orang.</p>
<p>Pengertian dari stres itu sendiri menurut E. P Gintings  adalah reaksi tubuh manusia kepada setiap tuntutan yang dialami oleh seseorang dalam hal sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Keletihan dan kelelahan akibat kehidupan</li>
<li>Suatu keadaan yang dinyatakan oleh suatu sindroma khusus dari peristiwa biologis dan bisa menyenangkan maupun tidak menyenangkan.</li>
<li>Mobilisasi pembelaan tubuh yang memungkinkan adaptasi terhadap peristiwa kekerasan atau ancaman</li>
<li>Terganggunya mekanisme keseimbangan dalam diri seseorang yaitu “keseimbangan dalam” dan “keseimbangan luar” yang sifatnya fisik, sosial, mental dan spiritual oleh karena perubahan yang mendadak yang sifatnya tidak menyenangkan maupun menyenangkan.</li>
<li>Mengecilnya potemsi seseorang karena adanya luka-luka perasaan, beban berat dan kenutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam diri seseorang.</li>
</ul>
<p>Dengan kata lain, stres merupakan ungkapan reaksi tubuh dari suatu keadaan dan tuntutan yang dialami olehnya, dan juga merupakan suatu pembelaan dari keadaan yang menekan tersebut. Pembelaan tersebut dapat mendorong adanya proses adaptasi pada manusia sehingga manusia dapat lebih menyesuaikan diri pada peristiwa-peristiwa atau keadaan-keadaan yang mengancam.</p>
<p>Hal lain yang perlu kita ketahui adalah pada saat stres manusia tidak dapat berpikir dengan jernih kerena pikiran manusia saat itu terbagi antara pikiran yang layak dan ia inginkan dengan pikiran yang merusak (E.P Gintings, 1999). Karena itu kita perlu melakukan suatu hal untuk mengatasi dan mencegah stres sehingga dapat membuat kita terbebas dari keadaan semacam itu.</p>
<p>Pertama-tama kita harus dapat mengenali respon stres yang  terjadi pada diri kita agar kita dapat mengetahui dan yakin bahwa kita memang sedang terancam stres. Kemudian kita harus dapat mengenali sumber-sumber penyebab stres. Barulah setelah itu kita mencari dan mengembangkan strategi untuk mengatasi stres. Selain ketiga hal tersebut, hal lain yang juga sangat penting untuk kita lakukan adalah menerapkan ketiga hal tersebut pada kehidupan sehari-hari kita.</p>
<p><strong>Kenali reaksi stres pada diri…<br />
</strong> <br />
Cara kita bereaksi pada stres bermacam-macam tergantung pada kepribadian, pengalaman, masa kecil, dan cara hidup kita masing-masing (Cary Cooper&amp;Alison Straw, 1995). Reaksi stres pada diri kita dapat terlihat dari perubahan fisik maupun tingkah laku. Rekasi-reaksi yang mungkin timbul dalam fisik seseorang diantaranya adalah; nafas memburu, mulut dan keongkongan kering, tangan lembab, merasa panas, otot-otot tegang, pencernaan,mencret-mencret, sembelit, letih yang tak beralasan, sakit kepala, salah urat, gelisah, dan lain-lain. Sedangkan reaksi stres yang berupa tingkah laku diantaranya adalah; bingung, cemas, sedih, jengkel, salah paham, tak berdaya, gelisah, gagal, kehilangan semangat, hilangnya kreatifitas, tidak bergairah, tidak berminat pada orang lain, kesulitan dalam berkonsentrasi, serta kesulitan berpikir jernih dan membuat keputusan.</p>
<p>Pada topik kali ini yaitu stres yang terjadi pada para <em>fresh graduate</em> yang belum mendapatkan pekerjaan, lebih mudah dan sering terlihat reaksi stres yang berupa tingkah laku. Sebagai contoh, tingkah laku jengkel, sedih, dan bingung karena pada dasarnya mereka telah menyelesaikan kuliah dan memiliki kekampuan  serta pengetahuan dalam bidang tertentu, namun kemampuan tersebut tidak dapat digunakan karena belum juga mendapat pekerjaan. Selain itu tingkah laku gelisah dan cemas juga sering terlihat menyelimuti mereka yang mungkin dikarenakan teman-teman seangkatannya sudah banyak yang mendapatkan pekerjaan tetapi hal tersebut belum terjadi pada dirinya. Karena adanya reaksi-reaksi stres yang sebelumnya,  tingkah laku yang menunjukan sulitnya berkonsentrasi dan berkreatifitas juga sering terjadi pada para <em>fresh graduate</em> yang belum mendapatkan pekerjaan. Mereka juga sering terlihat salah paham, sulit berpikir jernih pada saat terdapat orang yang berbicara padanya yang mungkin hanya sekedar memberikan semangat ataupun nasihat, namun dirasakannya sebagai sebuah ejekan atau sindiran. Hal tersebut membuat tidak berminat bertemu orang lain mungkin karena mereka merasa malu dan malas menjawab peretanyaan-pertanyaan yang sangat mungkin dilontarkan pada mereka seputar dengan pekerjaan dan akan semakin menambah rasa kekecewaan dan kegagalan yang mereka rasakan. Karena adanya rekasi-reaksi yang lainnya, membuat para <em>fresh graduate</em> tersebut merasa tidak berdaya menghadapi segala tuntutan yang ada.</p>
<p>Sedangkan reaksi stres yang terjadi pada fisik para <em>fresh graduate</em> yang belum mendapatkan pekerjaan lebih sulit terlihat karena adanya keadaan dan ketahanan fisik seseorang yang berbeda-beda. Sangat penting bagi kita untuk dapat mengatahui berbagai reaksi dan gejala stres yang terjadi pada diri kita, karena dengan mengetahui dan mengenali hal tersebut kita dapat mengukur kedalaman masalah yang terjadi pada diri serta mengembangkan strategi positif untuk mengatasinya.</p>
<p><strong>Kenali pula sumber stres yang ada…</strong></p>
<p>Di dalam kehidupan kita harus membiasakan dan menyesuaikan diri dengan segala perubahan dan tekanan-tekanan yang ada dan terjadi berulang-ulang karena kejadian-kejadian itulah yang menjadi sumber kepuasan dan stres pada hidup kita (Cary Cooper&amp;Alison Straw, 1995). Dengan adanya hal tersebut maka kita harus dapat menyesuaikan diri sehingga dapat terhindar dari stres.<br />
Segala reaksi stres yang timbul sangat berpengaruh pada individu seseorang, karena itu cara untuk mengatsi stres juga hasus dimulai dari individu itu sendiri. Hal pertama yang perlu dilakukan seseorang sebagai seorang individu adalah dengan mengenali sumber-sumber stres yang ada dalam hidupnya.</p>
<p>Pada topik kali ini, masa transisi dari dunia sekolah ke dunia kerja dapat menciptakan kesulitan-kesulitan serius dan dapat menjadi sumber stres bagi para <em>fresh graduate</em> yang sedang mengalaminya. Pada masa ini disatu sisi anak-anak muda sedang berusaha membuktikan dari mereka sebagai orang yang dewasa dan ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain, namun pada saat yang bersamaan membutuhkan penghargaan psikologis ketentraman masa kanak-kanak seperti dalam bentuk pujian, promosi, penambahan gaji, serta anggung jawab yang lebih besar (Cary Cooper&amp;Alison Straw, 1995). Jika hal-hal tersebut tidak muncul, maka sangat mungkin menimbulkan berbagai kesulitan dan stres seperti yang dialami para fresh graduate yang belum mendapatkan pekerjaan.</p>
<p>Berbeda dengan pengangguran lainnya yang memang tidak senyelesaikan sekolah mereka, tekanan yang terjadi pada para <em>fresh graduate</em> bisa jadi lebih besar karena pada dasarnya mereka mereka berhasil menyelesaikan sekolah mereka hingga tingkat lanjut. Keberhasilan mereka tersebut sudah pasti diiringi dengan kemampuan dan potensi yang mereka harapkan dapat menjadi dasar dan ‘senjata’ untuk mendapatkan pakerjaan yang layak, namun ternyata malah menjadi tekanan dan sumber stres tersendiri. Hal tersebut dikarenakan dengan memiliki potensi tersebutpun mereka tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan. Tekanan lainnya yang timbul juga berasal dari perasaan sia-sia karena mereka telah mempertaruhkan uang yang cukup banyak serta waktu yang cukup lama untuk berjuang yaitu kurang lebih lebih 4 tahun untuk menyelesaikam kuliahnya, namun setelah berhasil mereka tetap merasa kesulitan. Keluarga yang terus menuntut mereka untuk segera bekerja juga menjadi salah satu tekanan, bahkan teman-teman seangkatannya yang telah banyak bekerja juga menjadi tekanan tersendiri hingga membuatnya merasa jengkel, marah, sedih, namun kehilangan semangat dan  tak berdaya.</p>
<p>Suasana kehidupan dalam kebudayaan meterialistis yang semakin menonjol mengarahkan kehidupan manusia pada persaingan yang tajam, yang sacara otomatis meningkatkan gejala stres dalam kehidupan seseorang (E.P Gintings, 1999). Persaingan tersebut selalu bekaitan dengan sesuatu dalam diri menusia yang disebut ‘potensi’. Manusia memerlukan potensi untuk memenangkan persaingan tersebut, namun potensi tersebut dapat berkembang dan sebaliknya dapat mengecil.</p>
<p>Semakin berat beban hidup yang dipikul oleh seseorang makin banyak ‘luka perasaan’ dan ‘kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi’ di dalam diri seseorang, maka potensi masusia itu akan semakin mengecil (E.P Gintings, 1999). Hal tersebut dapat membuat potensi semakin mengecil karena semakin banyaknya luka perasan seseorang semakin membuat seseorang tidak dapat mengeluarkan potensi yang dimilikinya dengan maksimal. Sebaliknya jika beban-beban kebutuhan hidup itu tersalurkan, maka potensi yang bersangkutan semakin kuat dan berkembang (E.P Gintings, 1999).</p>
<p>Manusia yang banyak mendapat tekanan maka potensinya akan semakin menurun, turunnya potensi orang tersebut bisa jadi mempengaruhi kesempatannya untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Maka dapat disimpulkan bahwa turunnya potensi ini dapat menjadi salah satu sumber stres yang terjadi pada pada para <em>fresh graduate</em>.</p>
<p><strong>Cara mengatasi stres…?</strong></p>
<p>Stres yang hanya sesekali terjadi hanya berakibat kecil pada diri kita, namun dalam situasi masyarakat sekarang yang penuh dengan ketegangan, stres dapat datang secara meluas sampai jangka waktu yang lama hingga dapat berakibat fatal. Karena itu kita perlu mencari, memahami, serta menerapkan strategi untuk mengatasi stres yang cocok dengan diri.</p>
<p>Jika anda merasa menjadi salah satu dari para <em>fresh graduate </em>yang juga membutuhkan beberapa pilihan strategi untuk mengatasi stres, maka di bawah ini terdapat beberapa pilihan strategiyang munkgin dapat anda pilih.</p>
<ul>
<li><strong>Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan<br />
</strong>Tidak tahu apa yang ingin anda lakukan setelah lulus kuliah dapat membuat anda menjadi stres (Richard Carlson, 2003). Mungkin anda ragu untuk menentukan pekerjaan apa sebenarnya yang memang anda inginkan. Walaupun pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari keluarga anda dapat membuat stres, yakinlah bahwa anda tidak sendiri. Memang terdapat beberapa orang yang langsung mendapatkan pekerjaan, namun tidak semuanya demikian. Bila anda masih mempertimbangkan pekerjaan apa yang paling cocok dengan anda, itu bukanlah hal yang salah. Terkadang terburu-buru memilih berkarier malah bisa menjadi sebuah masalah. Gunakanlah waktu kosong anda untuk mengitrospeksi diri agar dapat mengambil keputusan yang tepat bukanlah cepat. Hal ini tidak akan membuang waktu anda tetapi membantu anda untuk mempersiapkan masa depan.</li>
<li><strong>Abaikan komentar negatif dari teman dan keluarga</strong><br />
Sering kali anda merasakan keluarga dan teman-teman memberikan komentar yang negatif tentang anda, tentang kegagalan anda, ataupun yang lainnya. Abaikan saja komentar negatif dari mereka karena anda adalah orang yang tahu seberapa besar kemampuan anda sebenarnya, dan bila anda terus memikirkannya dapat membuat anda semakin stres. Jangan terpancing untuk betengkar dan membela diri karena hal itu akan menimbulkan ketegangan diantara kalian yang sebenarnnya tidak anda butuhkan. Anda mungkin juga tidak akan dapat meyakinkan mereka bahwa mereka salah, karena itu bersikaplah tenang. Tetapi satu hal yang harus anda perhatikan adalah bahwa anda yakin komentar tersebut benar-benar komentar yang negatif, bukan nasihat yang sebenarnya dapat membantu anda tetapi terdengar negatif atau menyindir bagi anda.</li>
<li><strong>Cobalah pekerjaan sementara atau sukarela<br />
</strong>Pekerjaan sementara adalah tempat yang cocok untuk mencari pengalaman di dunia kerja. Walauwpun pekerjaan yang akan anda lakukan mungkin hanyalah pekerjaan yang sepele, namun hal tersebut mengajari anda untuk bertanggung jawab sebagai seorang karyawan. Selain itu, anda dapat mengamati segala aspek pekerjaa sehingga anda dapt menyadari jenis pekerjaan apa yang paling cocok dengan anda.<br />
Jangan  pernah merasa sia-sia untuk melakukan pekerjaan sukarela, karena dengan hal tersebut anda dapat membangun relasi dalam serikat pekerja, selain itu bukan hanya menambah pengalaman anda tapi juga dapat menjadi tambahan yang sangat bagus dalam CV anda.Bila anda belum mendapatkan pekerjaan, pertimbangkanlah kedua pekerjaan ini, karena ini merupakan cara yang jitu untuk melangkahkan kaki masuk ke dunia kerja.<strong> </strong><strong> </strong></li>
<li><strong>Jangan takut untuk meminta nasihat<br />
</strong>Nasihat-nasihat orang yang telah berpengalaman sangat dibutuhkan, karena anda perlu tahu bagaimana membuat CV dengan benar, di mana anda harus mencari pekerjaan, bagaimana anda harus bersikap saat wawancara, hal apa asaja yang biasa ditanya saat wawancara, bagaimana cara menjawab pertanyaan tersebut, dan lainnya.  Cara yang paling mudah untuk mendapatkan nasihat adalah dengan memintanya kepada mereka yang telah berpengalaman. Nasihat-yang datang pada anda dapat mengurangi stres dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena bila anda memilih untuk memikirkannya sendiri maka bisa saja terdapat terlalu banyak pilihan di depan anda dan hal tersbut malah membuat anda bingung, letih dan kemudian stres. Karena itu, ajaklah seseorang untuk berbagi beban, kemudian mintalah  nasihat bila orang tersebut memang lebih berpengalangan.</li>
<li><strong>Jangan teobsesi dengan CV anda<br />
</strong>CV merupakan hal yang penting bagi siapa saja yang akan memberi anda pekerjaan, karena di dalamnya tercantum segala bentuk prestasi dan keterampilan yang telah anda miliki. Menyusun CV dapat membuat anda stres kerena mungkin anda merasa bahwa CV tersebutlah yang akan mencerminkan diri anda. Membaca CV adalah pekerjaan yang subjektif, jadi anda tidak akan bisa menebak apa yang ada dipikiran orang yang membaca CV anda. Karena itu anda tidak perlu mengkhawatirkan CV anda, cukup dengan memikirkan hal-hal yang membuat anda bangga dimasa kuiah, mata pelajaran kuliah yang paling anda kuasai, proyek-preoyek terbaik anda, serta kegiatan ekstrakulikuler yang anda ikuti. Setelah itu tuliskanlah semua yang anda ingat, prestasi dan keterampilan anda.  </li>
<li><strong>Membentuk jaringan kerja<br />
</strong>Mungkin sebenarnya anda adalah orang dipenuhi denagn segala talenta, namun tidak ada kesempatan bagi anda untuk menunjukkannya. Seseorang akan merasa lebih senang bekerja dengan orang yang mereka kenal, karena itu mencari karyawan malalui rekomendasi, referensi, atau teman dari teman yang lain akan terasa lebih mudah daripada seorang atasan harus menilai seseorang hanya dari CV.<br />
Anda bisa memulai jaringan tersebut dari rumah anda sendiri. Bisa dimulai dari ayah, ibu, saudara kandung, kemudian saudara jauh, teman, atau mungkin tetangga anda. Memperoleh pekerjaan dengan jalan tanpa jaringan adalah bagus, namun mendapatkan pekerjaan melalui jaringan ternyata pada kenyataanya menjadi lebih realistis (Richard Carlson, 2003). Bila anda memiliki peluang untuk dikenalkan pada seseorang dalam bidang anda, maka gunakanlah kesempatan itu.</li>
<li><strong>Jangan bandingkan kemajuan anda dengan kemajuan orang lain</strong>.                                        Mungkin teman anda mendapatkan pekerjaan yang bagus sacara langsung setelah lulus kuliah, atau munkgin teman anda langsung mendapatkan gaji yang besar unutk ukuran fresh graduate. Jangan pusingkan itu. Memandang teman anda sebagai saingan yang terlalu tinggi dapat menimbulkan ketegangan dan kepicikan (Richard Carlson, 2003). Karena itu berkonsentrasilah pada kemajuan anda, dan jangan memusingkan kenyataan bahwa teman anta berada diatas anda. Pikirkanlah bahwa anda harus berusaha agar segala hal yang anda lakukan akan berada di atas teman anda.</li>
</ul>
<ul>
<li><strong>Yakinlah bahwa akan selalu ada lowongan kerja untuk anda<br />
</strong>Anda harus yakin bahwa ketika anda tidak mendapatkan sebuah pekerjaan, bukan berarti anda tidak akan mendapatkan pekerjaan berikutnya. Jangan berpikir bahwa anda telah kehilangan peluang, karena mungkin setelah anda merasa gagal dalam sebuah wawancara, wawancara berikutnya telah menunggu anda. Karena itu tidak ada waktu bagi anda untuk putus asa dan tidak yakin pada diri anda sendiri. Katakanlah pada diri anda dengan penuh keyakinan bahwa peluang berikutnya akan lebih baik.</li>
<li><strong>Hadapi kesulitan dengan tabah<br />
</strong>Kehidupan setelah lulus memang merupakan sebuah peralihan dari mahasiswa manjadi anggota dalam kehidupan nyata yang tak jarang membuat seseorang menjadi stres, sakit kepala, dan adanya keraguan diri (Richard Carlson, 2003).. Namun alat terkuat anda setelah lulus untuk hidup dalam dunia nyata bukanlah CV ataupun koneksi, tetapi diri anda sendiri dan sikap anda dalam menghadapi segala hal. Keyakinan, tekad dan kemampuan yang anda milikilah yang akan menemani anda melewati sagala hal yang ada. Bawalah diri anda sendiri pada kehidupan yang anda impikan, dan jangan biarkan stres menghancurkan hidup anda.</li>
</ul>
<p><em>By Nurul Margi Astuti</em></p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Gintings, E.P . (1999). Mengatasi Stres dan Penangglangannya. Yogyakarta: YayasanANDI</p>
<p>Cooper, Cary &amp; Alison Straw.(1995). Stress Management yang Sukses. Jakarta: Kesaint Blanc Indah Corp.</p>
<p>Carlson, Richard. (2003). <em>Don’t Sweat Guide For Graduates</em>. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama</p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://all-about-stress.com/2008/03/23/%e2%80%9cstres-pada-fresh-graduate-yang-belum-mendapatkan-pekerjaan%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mengatasi Stres dalam Menghadapi Deadline Tugas Kuliah</title>
		<link>http://all-about-stress.com/2008/03/23/mengatasi-stres-dalam-menghadapi-deadline-tugas-kuliah/</link>
		<comments>http://all-about-stress.com/2008/03/23/mengatasi-stres-dalam-menghadapi-deadline-tugas-kuliah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 01:50:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesian Articles]]></category>

		<category><![CDATA[coping strategies]]></category>

		<category><![CDATA[deadliners]]></category>

		<category><![CDATA[stress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://all-about-stress.com/2008/03/23/mengatasi-stres-dalam-menghadapi-deadline-tugas-kuliah/</guid>
		<description><![CDATA[Dunia perkuliahan biasanya cukup identik dengan mahasiswa dan tugas-tugas kuliah. Tugas-tugas kuliah yang diberikan biasanya terdiri dari berbagai macam jenis, seperti membuat makalah, penelitian, presentasi, analisa kasus, dll. Bentuk dan cara pengerjaan tugas-tugas kuliah itu juga beragam yaitu dapat berupa tugas berkelompok atau tugas mandiri. Setiap tugas kuliah yang diberikan oleh setiap dosen memiliki tingkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/deadliners.jpg" title="Deadliners"></a><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/deadliners.jpg" title="Deadliners Mengatasi Stres"><img src="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/deadliners.thumbnail.jpg" alt="Deadliners Mengatasi Stres" /></a>Dunia perkuliahan biasanya cukup identik dengan mahasiswa dan tugas-tugas kuliah. Tugas-tugas kuliah yang diberikan biasanya terdiri dari berbagai macam jenis, seperti membuat makalah, penelitian, presentasi, analisa kasus, dll. Bentuk dan cara pengerjaan tugas-tugas kuliah itu juga beragam yaitu dapat berupa tugas berkelompok atau tugas mandiri. Setiap tugas kuliah yang diberikan oleh setiap dosen memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Seharusnya dengan semakin berkembangnya teknologi, mahasiswa dapat lebih mudah untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit mahasiswa yang pada akhirnya menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya sampai pada menit-menit terakhir waktu pengumpulan tugas. Di kalangan mahasiswa, mereka yang menyelesaikan tugas sampai pada detik-detik terakhir pengumpulan tugas ini dinamakan deadliners.</p>
<p>Dalam mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, para deadliners ini berpacu dengan waktu dan berusaha secepat serta sekeras mungkin untuk menyelesaikan semua tugas-tugas kuliah yang ada sebelum terlambat. Mereka tentunya merasakan kecemasan yang semakin intens serta bagaimana perut mereka terasa tidak enak atau jantung yang berdebar-debar menjelang waktu pengumpulan tugas yang semakin mendekat sampai akhirnya mereka menyelesaikan tugasnya dan menjadi lega.</p>
<p>Secara umum stres dapat diartikan sebagai <em>“…feeling that&#8217;s created when we react to particular events. It&#8217;s the body&#8217;s way of rising to a challenge and preparing to meet a tough situation with focus, strength, stamina, and heightened alertness</em>” (<a href="http://www.kidshealth.org/teen/your_mind/emotions/stres.html">http://www.kidshealth.org/teen/your_mind/emotions/stres.html</a>). Artinya, stres itu sendiri merupakan reaksi seseorang terhadap situasi tertentu yang terjadi di sekitarnya.</p>
<p>Ada 2 pandangan yang digunakan untuk menjelaskan stres, eustres dan distres. Berdasarkan istilah yang digunakan oleh Selye (1974), distres yaitu <em>“damaging or unpleasant stres… a state of anxiety, fear, worry, or agitation. The core of the psychological experience is negative, painful, something to be avoided”</em>. Sedangkan menurut Hanson (1986), eustres merupakan stres yang mendatangkan kebaikan. Sesuatu hal / kondisi yang menimbulkan stres disebut sebagai stresor.</p>
<p><strong>Reaksi stres</strong><br />
Para deadliners jelas terlihat mengalami stres (distres) dengan deadline tugas sebagai stresor-nya. Hal ini terlihat dari reaksi mereka terhadap stres menjelang waktu pengumpulan tugas tiba (deadline tugas). Biasanya, ciri khas yang terlihat adalah para deadliners akan terlihat sibuk berkonsentrasi dan ngebut untuk cepat-cepat menyelesaikan tugas kuliahnya. Semakin dekat waktu pengumpulan tugas, mereka akan merasa cemas, jantung semakin berdebar-debar dan berkeringat dingin. Hal ini disebabkan ketika kita memberikan respon terhadap stresor, hormon adrenalin dan kortisol dilepaskan ke aliran darah dalam tubuh. Hormon ini membuat jantung kita berdetak lebih cepat, meningkatkan tekanan darah, ritme pernapasan dan metabolisme tubuh. Pembuluh darah terbuka lebar sehingga otot tubuh menjadi lebih tegang. Hati melepaskan glukosa untuk memberikan tenaga pada tubuh dan akhirnya keringat dihasilkan. Selain itu, reaksi gejala fisik yang timbul juga meliputi perasaan terburu-buru, cemas, perut tidak enak, sakit kepala, dan sejumlah reaksi fisik lainnya (<a href="http://www.kidshealth.org/teen/your_mind/emotions/stres.html">http://www.kidshealth.org/teen/your_mind/emotions/stres.html</a>).</p>
<p>Kecemasan yang dirasakan para deadliners juga dapat dikategorikan sebagai reaksi emosional terhadap stres yang dihadapi disamping reaksi-reaksi lainnya seperti ketidaksabaran, perasaan ingin menangis, kesulitan tidur, serta perubahan pola makan. Reaksi secara kognitif terhadap stresor dapat terlihat dari sulitnya para deadliners untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas, kurang dapat memperhatikan detail, kurang kreatif dan produktif, penglihatan kabur serta menjadi pelupa. Perilaku lain yang dapat terlihat oleh kita adalah perilaku para deadliners selama menyelesaikan tugas kuliah seperti cenderung ceroboh, tertawa dengan gugup, merokok, makan berlebihan atau makan terlalu sedikit, serta cenderung menjadi lebih agresif (<a href="http://holisticonline.com/stress/stress_home.htm">http://holisticonline.com/stress/stress_home.htm</a>).</p>
<p><strong>Sumber stres<br />
</strong>Tak jarang para deadliners juga begadang dengan ditemani kopi supaya mereka tidak mengantuk dan dapat terus menyelesaikan tugasnya sampai tengah malam atau pagi. Sebenarnya, begadang dapat menimbulkan stres karena ritme waktu tubuh berubah sehingga menyebabkan ketidakseimbangan pada sistem di dalam tubuh. Seharusnya tubuh sudah beristirahat pada jam tertentu di waktu malam namun karena begadang, tubuh dipacu untuk terus ‘bangun’ dan menyelesaikan tugas kuliah. Jika stres ini terus berlanjut, maka sistem kekebalan tubuh para deadliners menurun dan mereka akan menjadi sakit (Wortman, et al, 1999).</p>
<p>Berdasarkan hasil penelitian dari para ahli di University of Chicago(<a href="http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/diabetes311207.htm">http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/diabetes311207.htm</a>), tidur tidak nyenyak selama tiga hari berturut-turut juga akan menurunkan toleransi tubuh terhadap glukosa, khususnya pada orang muda dan dewasa. Lebih lanjut dikatakan juga bahwa hal ini dapat meningkatkan risiko seseorang mengidap diabetes.</p>
<p>Pola hidup begadang ini juga terkait dengan perubahan pola makan para deadliners. Ketika para deadliners begadang dan sibuk menyelesaikan tugas kuliah, secara tidak langsung makanan yang dikonsumsi tidak teratur jadwalnya. Para deadliners, misalnya, bisa makan lebih atau bahkan kurang dari 3 kali sehari atau ngemil di malam hari saat mengerjakan tugas. Jika seseorang makan tidak teratur maka akan mengganggu waktu proses metabolisme tubuh dalam mengolah, menyerap dan membuang zat sisa makanan.</p>
<p>Konsumsi kafein berlebihan, terutama pada kopi, juga dapat menjadi sumber stres. Seseorang yang mengkonsumsi kopi dalam jumlah yang banyak (lebih dari 250 mg kafein per hari / setara dengan 3 cangkir kopi) akan mengalami kecemasan, diare, lekas marah, denyut jantung yang tidak beraturan dan kesulitan untuk berkonsentrasi. Hal ini disebabkan karena kafein merupakan zat perangsang dan dapat meningkatkan pengeluaran asam lambung dan hormon tiroid yang dapat menimbulkan kegelisahan dan dapat menyebabkan ginjal bekerja lebih keras karena bertindak sebagai diuretik (menyebabkan sering buang air kecil). Kafein menghalangi penyerapan zat besi jika dikonsumsi dengan makanan atau dalam satu jam setelah makan (<a href="http://www.familys-doctor.com/mainisuee">http://www.familys-doctor.com/mainisuee</a>).</p>
<p><strong>Coping strategies</strong><br />
Setelah mengetahui sumber-sumber stres-nya, apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi deadline tugas kuliah? Langkah pertama untuk mengatasinya adalah dengan mengatur / me-manage stres yang kita alami. Cara / strategi yang digunakan untuk me-manage stres biasa dikenal dengan istilah <em>coping strategy</em>. <em>Coping strategy</em> didefinisikan sebagai <em>“stabilizing factor that can help individuals maintain psychosocial adaptation during stresful periods. It compasses cognitive and behavioral efforts to reduce or eliminate stresful conditions and associated emotional distres”</em> (Lazarus and Folkman, 1984; Moss and Schaefer, 1993).</p>
<p>Menurut Zainun Mu’tadin, SPsi., MSi. (ww.e-psikologi.com), coping strategy merupakan “suatu proses dimana individu berusaha untuk menangani dan menguasai  situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku  guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.”</p>
<p>Ada 2 bentuk coping yang dikenal, <em>problem focused coping</em> dan <em>emotion focused coping</em> (Wortman, et al, 1999). <em>Problem focused coping</em> adalah usaha mengatasi stres dengan cara melakukan tindakan langsung yang bersifat konstruktif terhadap situasi sumber stres itu (berhubungan dengan stres yang dapat dikontrol). <em>Emotion focused coping</em> adalah usaha untuk mengelola emosi yang terjadi karena situasi yang dihadapi (berhubungan dengan stres yang tidak dapat dikontrol). Bentuk yang satu sama baiknya dengan bentuk yang lain, hanya tergantung siapa, kapan dan pada situasi apa kedua bentuk coping itu digunakan.</p>
<p>Menurut definisi di atas, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi deadline tugas kuliah. Salah satunya adalah mengatur waktu dengan baik (<em>time management</em>). Aturlah prioritas dan jadwal sehari-hari dengan baik. Dengan menentukan prioritas maka para deadliners memahami hal-hal penting apa saja yang akan dilakukan terlebih dahulu. Dengan mengatur jadwal, maka para deadliners dapat menyusun rencana dari jauh hari sebelum deadline pengumpulan tugas mengenai apa-apa saja yang harus dikerjakan sehingga tugas tidak dibiarkan menumpuk. Selain itu, dengan jadwal yang tersusun rapi maka para deadliners bisa mengatur waktu kapan mereka mengerjakan tugas dan kapan bersantai melakukan aktivitas lainnya. Cara lainnya yaitu berusaha untuk menjalani hidup dengan lebih rileks dan bahagia. Jika kita merasa rileks maka saraf-saraf tubuh kita akan ikut rileks dan santai.</p>
<p><em>By Fenny</em></p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Sumber buku :<br />
Giordano, D.A., Dusek, D.E., &amp; Everly, G.S. (2005). <em>Controlling Stres and Tension</em> (7th ed). San Fransisco: Pearson Benjamin Cummings.<br />
Rice, P.L. (1992). <em>Stress and Health</em>. Pacific Grove, CA: Brooks/Cole Publishing Co.<br />
Wortman, C.B, Loftus, E.F, Weaver, C. (1999). <em>Psychology</em> (5th ed). USA: McGraw Hill.</p>

]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://all-about-stress.com/2008/03/23/mengatasi-stres-dalam-menghadapi-deadline-tugas-kuliah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Broken Heart= Stress?</title>
		<link>http://all-about-stress.com/2008/03/23/broken-heart-stress/</link>
		<comments>http://all-about-stress.com/2008/03/23/broken-heart-stress/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 01:37:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesian Articles]]></category>

		<category><![CDATA[broken heart]]></category>

		<category><![CDATA[coping stress]]></category>

		<category><![CDATA[stress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://all-about-stress.com/2008/03/23/broken-heart-stress/</guid>
		<description><![CDATA[Broken heart = STRES ?
Vira (nama samaran), seorang siswi SMU terkemuka di kota Jakarta, sudah seminggu ini mengalami perubahan sikap pada kesehariannya. Gadis periang ini berubah menjadi seorang gadis pendiam. Perubahan yang dialami Vira sangat dirasakan oleh teman-teman mainnya di sekolah. Ia yang selama ini dijuluki sebagai TOA (alat pengeras suara), sudah sepekan ini berubah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/broken-heart.jpg" title="Broken Heart"></a><a href="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/broken-heart.jpg" title="Broken Heart = Stres ?"><img src="http://all-about-stress.com/wp-content/uploads/2008/03/broken-heart.thumbnail.jpg" alt="Broken Heart = Stres ?" /></a>Broken heart</em> = STRES ?<br />
</strong><em>Vira (nama samaran), seorang siswi SMU terkemuka di kota Jakarta, sudah seminggu ini mengalami perubahan sikap pada kesehariannya. Gadis periang ini berubah menjadi seorang gadis pendiam. Perubahan yang dialami Vira sangat dirasakan oleh teman-teman mainnya di sekolah. Ia yang selama ini dijuluki sebagai TOA (alat pengeras suara), sudah sepekan ini berubah layaknya putri yang sedang dipingit. Setiap kali ada teman yang mengajaknya bermain atau hanya sekedar bergurau, pasti ditanggapinya dengan dingin. Selalu saja ada alasan dari mulutnya untuk menghindar, dengan beralasan mau menyelesaikan PR-lah, hendak belajar untuk ulangan-lah atau selalu saja ada ide kreatif keluar dari Vira hanya untuk menghindar dari teman-temannya.<br />
Hingga akhirnya, seorang guru bimbingan konseling sekolah memanggil Vira akibat perilaku yang ia lakukan mulai berpengaruh pada perolehan nilainya. Dari konseling yang dilakukan, terungkaplah akar penyebab perubahan perilaku Vira. Dengan terisak-isak ia mulai mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya beberapa hari belakangan. Veri (nama samaran), sang arjuna yang selama ini banyak mewarnai hari-harinya ternyata kepergok memiliki pujaan hati yang lain. Akibatnya, hubungan indah yang selama ini mereka jalani harus berakhir setelah Vira memutuskan untuk menyudahinya. Setelah kejadian itu, Vira merasa seperti kehilangan semangat hidupnya. Veri yang selama ini menjadi penyemangat hidupnya, ternyata sudah mengecewakannya. Guru bimbingan konseling Vira, akhirnya menyimpulkan bahwa Vira mengalami stres akibat patah hati. Peristiwa patah hati yang dialaminya itu sangat mengganggu kegiatannya sehari-hari, bahkan membuat prestasinya menjadi turun. Hal tersebut mungkin dikarenakan coping atau cara Vira dalam menghadapi masalahnya tersebut cenderung negatif (incompetent coping), sehingga dampaknya pun menjadi negatif.</em></p>
<p><strong>Apa itu STRES</strong> ?<br />
Stres adalah segala perasaan yang tidak menyenangkan (<em>unpleasure feelings</em>). Stres juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana keadaan tubuh terganggu karena adanya tekanan. Stres biasanya dikenal dengan istilah tekanan, <em>pleasure, demand</em>. Tekanan yang dirasakan oleh tiap individu tersebut berbeda-beda. Stres dibagi menjadi dua macam, yaitu : stres yang bersifat negatif yang dapat menganggu fungsi seseorang (<em>distress</em>), dan stres yang dapat berdampak positif untuk orang tersebut (<em>eustress</em>). Stres akan mencapai nilai optimum apabila antara tekanan atau pleasure dan coping atau cara untuk menghadapi tekanan tersebut seimbang. </p>
<p><em>Competent Coping  = Relief<br />
Broken Heart ? Stress <br />
Noncompetent Coping  = Dysfunction</em></p>
<p>Semua manusia pasti mengalami berbagai macam <em>life events</em> atau kejadian hidup. <em>Life events</em> itu sendiri sebenarnya bersifat netral. Tergantung dari bagaimana cara individu menginterpretasikan kejadian tersebut dan juga tergantung dari informasi-informasi apa saja yang individu miliki dari kejadian tersebut. Informasi-informasi tersebut nantinya akan mempengaruhi stresor jenis apa yang akan dirasakan oleh individu. Stresor tersebut dapat menjadi positif atau menjadi negatif. Apabila stresor tersebut cenderung positif, maka stres yang dialami individu tersebut dinamakan eustress. Hal tersebut dikarenakan stresor tersebut dapat berdampak positif bagi individu. Sedangkan apabila stresor tersebut cenderung negatif, maka stres yang dialami oleh individu tersebut yang dinamakan distress. Hal tersebut dikarenakan stressor tersebut dapat berdampak negatif bagi individu.</p>
<p><em>Life events</em> dapat disebabkan oleh faktor individu atau interaksi dalam lingkungan. Kasus Vira tersebut menunjukkan bahwa kejadian yang sedang dihadapi dalam hidupnya (<em>life event</em>), disebabkan oleh faktor interaksi dalam lingkungan. Dalam hal ini Vira mengalami patah hati dengan pacarnya. Stres yang dialami Vira tergolong dalam <em>distress</em>. Hal tersebut dikarenakan, sejak Vira mengalami stres karena patah hati, semua yang dilakukannya maupun yang dihasilkannya negatif. Kejadian atau <em>life events</em> yang dialaminya tersebut kemudian diproses secara emosional oleh individu dan juga diinterpretasikan secara sadar. Interpretasi secara sadar tersebut dapat secara kognitif atau emosi.</p>
<p>Tahap selanjutnya, kejadian tersebut diinterpretasikan secara tidak sadar, biasa disebut dengan istilah <em>subconcious appraisal</em>. Hal tersebut terbentuk dalam diri kita secara tidak sadar.</p>
<p>Beberapa faktor yang mempengaruhi subconcious appraisal, antara lain :</p>
<ul>
<li><em>Hypothalamic atau Limbic Stimulation</em><br />
Berfungsi untuk mengatur reaksi emosi. Rangsangan dan sensitifikasi dari limbic system telah diimplikasikan pada berbagai macam gangguan. Seperti gangguan kecemasan, gangguan kepribadian, reaksi posttraumatic, gangguan ketergantungan, dan <em>withdrawal syndrome</em>.</li>
<li><em>Feeling</em><br />
Bagaimana individu menginterpretasikan kejadian yang sedang menimpa dirinya secara emosional.</li>
<li><em>Memory<br />
</em>Bagaimana individu menginterpretasikan kejadian yang dirasakannya. Biasanya dipengaruhi dari pengalaman yang pernah dirasakan oleh individu atau melihat pengalaman orang lain yang mengalami kejadian yang serupa.</li>
<li><em>Reactive Predisposition</em></li>
</ul>
<p>Apabila dalam tahap ini informasi-informasi yang dimiliki terstimulasi, maka coping action mungkin dibutuhkan dalam tahap ini. Hasil dari tahapan ini adalah gerakan fisik dan emosional mempersiapkan tubuh untuk bereaksi. Sistem ini hanya untuk mempersiapkan badan dalam bereaksi dan reaksi mana yang akan digunakan nantinya, itu tergantung dari individu. </p>
<p>Tahap selanjutnya adalah <em>voluntary pathway</em>, dimana pada tahap ini adalah untuk mengkontrol persepsi, evaluasi dan pengambilan keputusan, merupakan tugas untuk <em>voluntary action</em>. Bagaimana individu menerima sebagian besar kejadian yang dimilikinya, tergantung dari konsep diri yang dimiliki individu, kekuatan ego yang dimilikinya, mood, temperament, bahkan faktor keturunan. Rangsangan emosi tersebut didasari oleh bagaimana pertahanan secara psikologis yang dialami dari pengalaman individu, khususnya pengalaman masa kecilnya. Hal tersebut membimbing rangasangan fisik, kemudian individu merasakan perlunya ada reaksi dari kejadian yang dialaminya.</p>
<p>Respon individu terhadap stimulus terdiri dari gabungan interpretasi secara sadar dan tidak sadar. Baik itu stimulus secara fisik, emosi, dan juga kognitif.</p>
<p>Terdapat beberapa macam respon, antara lain :</p>
<ul>
<li><em>Immediate response<br />
Immediate response</em> dapat menghasilkan <em>neutral excitability,</em> tekanan darah tinggi, bertambah tingginya kemungkinan sakit stroke, detak jantung semakin cepat, dll.</li>
<li><em>Delayed response</em><br />
Ingatan, pembelajaran dan kreativitas merespon untuk menghadapi stres. Selain itu meningkatkan aktivitas metabolisme tubuh, meningkatkan kadar protein, lemak dan gula darah.</li>
<li><em>Chronic response</em><br />
Merusak kemampuan kognitif (cara berfikir), adanya kelelahan, depresi, penyakit tekanan darah tinggi dan jantung, serta menurunkan pembentukkan antibodi. Adanya ketegangan otot.</li>
</ul>
<p>Cara kerja organ tergantung dari jenis coping yang digunakan oleh individu. Ada dua macam coping dalam menghadapi stres, antara lain : <em>competent coping</em> dan <em>incompetent coping</em>. Hasil dari <em>competent coping</em> dapat berupa masalah tersebut dapat terselesaikan, individu merasa lega atau puas, dan juga adanya diskripansi dengan masalah yang sedang dihadapi oleh individu. Sedangkan hasil dari <em>incompetent coping</em> adalah <em>dysfunction</em>, individu yang tidak dapat menghadapi masalahnya.</p>
<p>Terdapat berbagai macam sumber stres. Dalam kasus Vira, sumber stres yang dialami oleh Vira adalah adanya rasa kecewa kepada pacarnya, yang ternyata telah memiliki pujaan hati yang lain. Hal tersebut menjadi stresor bagi masalah yang sedang dihadapi oleh Vira.</p>
<p><strong>Stres Psikososial<br />
</strong>Stres psikososial adalah stres yang disebabkan karena adanya faktor luar, baik itu faktor lingkungan maupun faktor orang lain. Faktor-faktor luar tersebut dapat juga disebut dengan faktor-faktor eksternal. Terdapat lima masalah dalam stres psikososial, yaitu :</p>
<ol>
<li><em>Change</em> (perubahan)  Contoh : pindah rumah, ganti pacar, perubahan dalam teman kelompok.</li>
<li>Frustrasi   ? overcrowding, diskriminasi, birokrasi, faktor-faktor sosial ekonomi<br />
Contoh : antrian bayaran yang panj